Hujan lebat picu banjir di Gaza, satu orang tewas
Para saksi mengatakan kepada Anadolu bahwa ribuan tenda milik warga yang mengungsi juga terendam banjir dan tersapu angin kencang yang melanda Jalur Gaza sejak Senin malam.
Gaza City, Palestine, Istanbul
Seorang warga Palestina tewas dan beberapa lainnya terluka pada Selasa setelah sebuah bangunan tempat tinggal runtuh sebagian di Kota Gaza akibat hujan deras, kata Pertahanan Sipil.
Tim Pertahanan Sipil mengevakuasi satu jenazah dari reruntuhan sebuah rumah yang runtuh sebagian di Kamp Pengungsi Shati, sementara beberapa orang lainnya yang terluka berhasil diselamatkan, demikian pernyataan lembaga tersebut.
Pada Selasa pagi, hujan lebat dan badai melanda Jalur Gaza seiring masuknya sistem tekanan rendah baru. Menurut koresponden Anadolu, air hujan masuk ke sejumlah bagian Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza, terutama area penerimaan pasien dan unit gawat darurat, sehingga mengganggu aktivitas pelayanan.
Rumah Sakit Al-Shifa, kompleks medis terbesar di Jalur Gaza, telah menjadi sasaran banyak serangan Israel selama dua tahun genosida dan mengalami kerusakan parah. Upaya rehabilitasi oleh Kementerian Kesehatan Gaza setelah gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober gagal dilakukan akibat Israel mencegah masuknya peralatan yang dibutuhkan.
Para saksi mengatakan kepada Anadolu bahwa ribuan tenda milik warga yang mengungsi juga terendam banjir dan tersapu angin kencang yang melanda Jalur Gaza sejak Senin malam.
“Kami terbangun oleh suara angin kencang yang menghantam tenda kami. Kami berusaha mengamankannya dan menahannya, tetapi angin mencabut tenda itu, dan semua barang kami beterbangan,” kata Khaled Abdel Aziz kepada Anadolu.
“Saya sekarang berada di luar bersama istri dan anak-anak saya, duduk di tengah hujan. Tidak ada tempat untuk berlindung,” tambahnya.
Menurut para saksi, ratusan warga Palestina berusaha berlindung dari hujan di bawah bagian-bagian bangunan yang telah dihancurkan oleh tentara Israel di Kota Gaza.
Maha Abu Jazar, seorang ibu dengan tiga anak, terlihat berlari tanpa arah bersama anak-anaknya setelah air hujan sepenuhnya merendam tenda mereka di kawasan Al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis, di Jalur Gaza bagian selatan.
Secara terpisah, juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, memperingatkan bahwa ribuan rumah yang rusak sebagian akibat genosida Israel berisiko runtuh kapan saja karena hujan dan angin kencang.
“Rumah-rumah ini menimbulkan ancaman serius bagi nyawa ratusan ribu warga Palestina yang tidak memiliki tempat berlindung,” kata Basal kepada Anadolu. “Kami telah berulang kali memperingatkan dunia, tetapi tidak ada hasilnya.”
Wali Kota Jabalia, Mazen Al-Najjar, mengatakan kepada Anadolu bahwa “depresi cuaca datang saat para pengungsi sudah hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.”
Lebih dari 90 persen bangunan dan jalan di Jabalia dan Gaza utara hancur total, memaksa warga Palestina tinggal di tenda-tenda yang sudah rusak dan tidak layak, kata wali kota.
Ia menambahkan bahwa infrastruktur di Gaza utara sepenuhnya runtuh akibat genosida Israel, menyebabkan jalan-jalan tergenang dan limbah meluap sejak jam-jam pertama datangnya depresi cuaca.
Wali kota juga memperingatkan warga Palestina yang tinggal di dalam bangunan yang berisiko runtuh akibat serangan Israel sebelumnya, seraya menegaskan bahwa bangunan yang rusak parah telah menyebabkan puluhan orang tewas dan terluka pada depresi cuaca sebelumnya.
Najjar mencatat bahwa upaya pemerintah kota, tim pertahanan sipil, serta organisasi lokal dan internasional “tidak sebanding dengan besarnya dan terus meningkatnya kebutuhan” di wilayah tersebut.
Ia menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera menghadirkan rumah-rumah portabel sebagai solusi sementara, membangun kamp yang aman, serta segera merehabilitasi infrastruktur dan jaringan pembuangan limbah.
Sedikitnya 14 orang tewas akibat badai musim dingin di Gaza pekan lalu. Lebih dari 53.000 tenda pengungsian terendam sebagian atau seluruhnya, tersapu arus air, atau robek akibat angin kencang, dan 13 bangunan runtuh di seluruh Gaza.
Menurut Pertahanan Sipil, hampir 250.000 keluarga saat ini tinggal di kamp-kamp pengungsian di seluruh Jalur Gaza, dengan banyak di antaranya menghadapi cuaca dingin dan banjir di dalam tenda-tenda yang rapuh.
Meski gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, kondisi kehidupan di Gaza belum membaik karena Israel terus memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya truk bantuan, yang melanggar protokol kemanusiaan dalam perjanjian tersebut.
Israel telah membunuh lebih dari 70.600 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 171.100 lainnya dalam serangan di Gaza sejak Oktober 2023, yang terus berlanjut meskipun ada gencatan senjata.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
