Muhammad Abdullah Azzam
05 Maret 2019•Update: 06 Maret 2019
Muhammed Emin Canik
CARACAS
Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido yang menyeberang ke wilayah Kolombia pada 22 Februari lalu, kini dia dikabarkan telah kembali ke negaranya Venezuela setelah 11 hari kemudian.
Guaido meninggalkan negaranya sehari sebelum upaya pemasukan "bantuan kemanusiaan" Amerika Serikat (AS) yang dikirim melalui Kolombia ke Venezuela.
"Kami masuk ke Venezuela sebagai individu bebas, dan tidak ada yang bisa mengatakan sebaliknya," ungkap Ketua Majelis Nasional, Guaido dalam sebuah pernyataan di akun media sosialnya.
Setelah bertolak ke Kolombia, Guaido juga mengunjungi Brasil, Argentina, Paraguay dan Ekuador, negara-negara yang memberikan dukungan terhadap dirinya.
Di sisi lain, Jaksa Agung Venezuela Tarek William Saab mengajukan pemberlakuan larangan meninggalkan luar negeri, pembekuan aset dan rekening bank terhadap Guaido ke Mahkamah Agung pada akhir Januari lalu, upaya pencegahan ini disetujui oleh mahkamah pada hari berikutnya setelah pengajuan tersebut.
Pada 22 Februari, Venezuela menutup perbatasannya dengan Kolombia dan memutuskan hubungan diplomatik dengan negara tetangganya itu.
Sementara itu, Presiden Nicolas Maduro mengatakan Venezuela tidak memerlukan bantuan yang dikirim oleh Amerika Serikat dan sekutunya.
Di hari berikutnya, sedikitnya empat orang terbunuh dan 200 lainnya luka-luka selama aksi protes antipemerintah di Venezuela. Sebanyak 51 orang juga ditangkap ketika bentrok dengan pasukan keamanan di perbatasan Kolombia.
Venezuela telah diguncang gelombang protes sejak 10 Januari, ketika Maduro dilantik untuk masa jabatan kedua.
Ketegangan pun meningkat saat Guaido, yang memimpin Majelis Nasional Venezuela, menyatakan dirinya sebagai presiden pada 23 Januari, suatu langkah yang didukung oleh AS dan banyak negara Eropa dan Amerika Latin.
Sementara itu, Turki, Rusia, Iran, Kuba, Cina dan Bolivia telah menyatakan dukungan untuk Maduro.