Dunia

Gencatan senjata rapuh, Warga Gaza hadapi tahun penuh ketidakpastian

Sekitar 2,3 juta penduduk Gaza kini hidup dalam kondisi serba kekurangan di tengah kehancuran luas dan ancaman musim dingin

Mustafa Deveci  | 31.12.2025 - Update : 31.12.2025
Gencatan senjata rapuh, Warga Gaza hadapi tahun penuh ketidakpastian

ANKARA

Warga Palestina di Jalur Gaza diperkirakan akan menghadapi tahun yang sulit dan penuh ketidakpastian, seiring rapuhnya gencatan senjata dan memburuknya krisis kemanusiaan akibat pembatasan bantuan oleh Israel.

Sekitar 2,3 juta penduduk Gaza kini hidup dalam kondisi serba kekurangan di tengah kehancuran luas dan ancaman musim dingin.

Meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, kesepakatan tersebut dilaporkan berulang kali dilanggar.

Sumber-sumber Palestina menyebut Israel telah melakukan sekitar 1.000 pelanggaran sejak gencatan senjata diberlakukan.

Dalam periode tersebut, serangan Israel di Gaza menewaskan sedikitnya 414 warga Palestina dan melukai lebih dari 1.100 orang.

Ketidakpastian juga membayangi kelanjutan gencatan senjata. Berdasarkan kesepakatan yang dicapai, Hamas telah menyerahkan 20 sandera Israel yang masih hidup serta 27 jenazah dari 28 sandera yang tewas.

Namun, jenazah seorang tentara Israel bernama Ran Gvili, yang disebut tewas dalam pertempuran 7 Oktober dan dibawa ke Gaza, belum ditemukan.

Pemerintah Israel menyatakan tidak akan melanjutkan ke tahap kedua gencatan senjata sebelum jenazah tersebut diserahkan.

Media Israel melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana mengumumkan rencana “hari setelahnya” terkait masa depan Gaza pada 15 Januari.

Sementara itu, sejumlah pertanyaan masih belum terjawab, termasuk soal transisi ke tahap kedua gencatan senjata dan negara-negara mana yang akan berkontribusi pasukan dalam Pasukan Stabilitas Internasional yang direncanakan ditempatkan di Gaza.

Pembatasan bantuan kemanusiaan turut memperparah kondisi di lapangan. Dalam kesepakatan gencatan senjata, Israel seharusnya mengizinkan masuknya 600 truk bantuan per hari ke Gaza. Namun, ketentuan ini disebut tidak dipatuhi.

Menurut sumber Palestina, selama 80 hari masa gencatan senjata, Israel hanya mengizinkan masuk 19.764 truk bantuan, jauh di bawah angka yang disepakati sebanyak 40.000 truk.

Kondisi tempat tinggal warga Gaza juga sangat memprihatinkan. Sejak serangan Israel dimulai pada Oktober 2023 dan berlangsung lebih dari dua tahun, hampir 90 persen rumah di Gaza dilaporkan hancur. Akibatnya, lebih dari 1,5 juta warga Palestina kini tinggal di tenda-tenda darurat.

Musim dingin yang disertai hujan lebat, angin kencang, dan suhu rendah membuat kehidupan di tenda-tenda semakin berat. Banyak tenda terendam banjir atau rusak akibat badai, memaksa ribuan keluarga kehilangan tempat berlindung.

Sejumlah warga memilih berteduh di bangunan yang rusak parah akibat serangan Israel, meski berisiko runtuh.

Sejak awal Desember, cuaca ekstrem di Gaza telah menyebabkan kematian sedikitnya 25 warga Palestina, termasuk enam anak-anak. Kondisi ini diperkirakan akan terus memburuk mengingat keterbatasan tempat tinggal dan minimnya perlengkapan musim dingin.

Situasi semakin sulit karena Israel dilaporkan menghalangi masuknya rumah prefabrikasi ke Gaza. Sumber Palestina menyebut sedikitnya 200.000 unit rumah prefabrikasi dibutuhkan untuk mengatasi krisis perumahan, namun pengiriman tersebut belum diizinkan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui UNRWA juga menyatakan bahwa Israel terus menghambat penyaluran bantuan, termasuk material tempat tinggal yang sangat dibutuhkan ratusan ribu warga.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın