Pizaro Gozali İdrus
11 April 2019•Update: 12 April 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Pemerintah Filipina mendesak warganya yang tinggal di Tripoli dan daerah-daerah terdekat untuk pulang akibat pertempuran, lansir Philippines News Agency pada Kamis.
Kedutaan Besar Filipina di Tripoli meminta pindah ke lokasi yang lebih aman untuk menghindari kontak senjata antara Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) dan komandan militer Khilafa Haftar.
Chargé d’Affaires Keduataan Besar Filipina di Tripoli Elmer Cato mengatakan 12 orang Filipina telah menyatakan minat untuk dipulangkan, sementara 18 diungsikan oleh majikan mereka ke lokasi yang lebih aman di luar Tripoli.
"Kami masih harus memproses izin keluar mereka, tetapi kami akan berusaha mengeluarkannya secepat mungkin," kata dia.
Senin lalu, Filipina menaikkan level dari siaga di Tripoli dan daerah sekitarnya ke fase pemulangan sukarela bagi warganya atas rekomendasi kedutaan besar.
Filipina juga memberlakukan larangan total terhadap penempatan pekerja Filipina ke Libya karena pertempuran yang terus berlangsung.
Menurut Kementerian Luar Negeri Filipina, ada lebih dari 2.600 warganya di Libya.
Mereka banyak bekerja sebagai perawat, guru, dan pekerja industri minyak.
Akhir pekan lalu, komandan militer Khalifa Haftar mengumumkan kampanye ambisius untuk merebut Tripoli, di mana markas GNA berada.
Libya masih dilanda gejolak sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan tewasnya Presiden Muammar Gaddafi setelah empat dekade berkuasa.
Sejak itu, perpecahan politik Libya telah menghasilkan dua kursi kekuasaan yang saling bersaing: satu di timur Kota Al-Bayda; dan satu lagi di Tripoli.