Türkİye, Politik, Dunia

FETO layani intelijen asing di berbagai belahan dunia

Organisasi FETO menjadikan AS sebagai pusat operasi organisasinya di seluruh dunia

Muhammad Abdullah Azzam  | 23.01.2019 - Update : 24.01.2019
FETO layani intelijen asing di berbagai belahan dunia Pemimpin Organisasi Teroris Fetullah (FETO), Fetullah Gullen. (Foto file - Anadolu Agency)

Ankara

Cankut Taşdan

ANKARA

Melalui sebuah laporan berjudul “FETO adalah ancaman internasional”, Dinas Akademi Polisi Turki membeberkan hubungan kerja sama FETO dengan kekuatan besar sistem internasional, di antaranya Amerika Serikat.

Laporan tersebut mencakup analisis detail mengenai hubungan organisasi dengan kegiatan servis intelijen asing di berbagai belahan dunia.

Selain itu, laporan itu juga menjabarkan informasi komprehensif dari sejarah, karakteristik dasar dan tujuan organisasi, kegiatan-kegiatan dalam media dan pendidikan di Eropa, Balkan, Timur Tengah, Afrika, Rusia, Asia Tengah dan Kaukasus.

Organisasi FETO menjadikan AS sebagai pusat operasi organisasi di seluruh dunia, oleh karena itu pemimpin FETO, Fethullah Gulen tinggal di kediamannya di AS.

Organisasi tersebut memiliki jaringan sekolah yang luas di AS, selain itu pencapaian mereka dari jaringan perdagangan dan ekonomi melebihi miliaran dolar.

Organisasi itu memiliki lebih dari 140 sekolah di Amerika Serikat dan 60 ribu siswa di sekolah-sekolah tersebut. Sementara kegiatan ekonomi organisasi tersebut di AS mencapai lebih dari USD 500 juta per tahun.

"Jelas ini membuktikan kekuatan besar sistem internasional, seperti Amerika Serikat, bekerja sama dengan organisasi teroris itu," tulis laporan tersebut.

Meski AS telah memiliki kerja sama ekstradisi dengan Turki, namun hingga sekarang Amerika Serikat enggan mengembalikan Fethullah Gulen ke Turki.

Bahkan sekarang FETO semakin memperkuat lobi dalam politik di sana.

Laporan tersebut menginformasikan secara global tentang kegiatan organisasi itu di negara-negara Uni Eropa, dari pendidikan hingga hubungan perdagangan ke seluruh dunia.

Kemudian organisasi tersebut memperkuat diri dengan membangun strategi dalam kegiatan-kegiatan di sektor media dan dunia bisnis yang mana didukung oleh para birokrat dan partner berpengaruh di dalam politik.

Negara-negara barat seperti Jerman dan Austria dan Belanda memberikan semua bentuk dukungan kepada organisasi teroris itu.

"FETO merupakan organisasi tak bernegara dan dapat berkoalisi dengan semua pihak itu bersama intelijen-intelijen asing melancarkan aktivitas anti-Turki,” ungkap pernyataan tersebut.

Selama ini FETO melakukan kegiatan pendidikan di Jerman dan menerima dukungan finansial besar dari negara tersebut.

Jerman telah menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang melarikan diri dari Turki. Bahkan anggota organisasi pun mengakui Jerman telah menjadi markas baru organisasi tersebut.

Di sisi lain, setelah upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli, organisasi tersebut mengalami pukulan yang keras di Belanda.

Segera setelah upaya kudeta tersebut, 600 siswa keluar dari sekolah-sekolah FETO di Belanda dan jumlah ini kini telah bertambah dua kali lipat. Sampai-sampai organisasi itu harus mengubah nama sekolah mereka untuk menyelamatkannya.

Laporan itu menyebut kegiatan organisasi tersebut di negara-negara Afrika memanfaatkan strategi ekspansi Turki ke Afrika.

Beberapa negara di Afrika membatasi kegiatan FETO di dalam negerinya, karena beberapa negara-negara Afrika mulai melihat mereka sebagai ancaman bagi keamanan nasional.

Laporan tersebut menyatakan AS menggunakan alat FETO untuk mengendalikan wilayah yang luas di Asia Tengah pada kebijakan militer, politik dan sosial ekonomi setelah pecahnya Uni Republik Sosialis Soviet.

Hal tersebut dibuktikan oleh penemuan Badan Intelijen Rusia (FSB) pada tahun 2002 bahwa sekolah-sekolah FETO di negara-negara tersebut menjalankan misi intelijen AS yakni CIA, dan kegiatan intelijen asing tersebut bertentangan dengan kepentingan nasional Rusia.

Sementara Pemerintah Turki terus berupaya mengurangi dampak yang besar di negara-negara lain, laporan tersebut juga mengatakan FETO juga mengalami pukulan di Afghanistan.

Sebanyak 12 sekolah milik organisasi diserahkan ke Yayasan Pendidikan Turki Maarif.

Selain itu, organisasi tersebut juga melihat Azerbaijan sebagai pintu untuk memasuki wilayah Kaukasus, Asia Tengah dan Rusia.

Oleh karena itu, setelah Turki, Azerbaijan menjadi negara yang paling penting untuk memperluas cakupannya di kawasan itu.

FETO juga berusaha menggenggam kekuatan dunia Arab dan Islam di wilayah Timur Tengah, mereka memiliki misi menyebarkan pengaruh AS sebagai alternatif untuk menyingkirkan pengaruh Prancis dan Inggris di kawasan tersebut.

Seperti yang sudah mereka lalukan di negara lain, organisasi tersebut juga menjalankan operasi media dan percetakan di Timur Tengah untuk menyebarkan ideologinya dan menjangkau masyarakat luas.

Selama puluhan tahun organisasi itu melakukan penyusupan di pemerintahan Turki, pada bagian kesimpulan laporan tersebut, dipaparkan bahwa organisasi tersebut juga menerapkan metode dan strategi yang sama di negara-negara lain.

“Menguraikan struktur operasi internasional FETO ini penting bagi perdamaian dan keamanan internasional, bukan hanya untuk kepentingan nasional Turki saja,” ujar laporan itu.

Laporan juga menyebut badan intelijen asing menggunakan FETO untuk melemahkan kehendak suatu bangsa.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın