Rhany Chairunissa Rufinaldo
12 November 2019•Update: 12 November 2019
Sena Guler
ANKARA
Sejumlah negara Eropa pada Senin menyuarakan kekhawatiran besar atas langkah terbaru Iran yang memulai kembali pengayaan uranium di fasilitas nuklir bawah tanah.
"Menteri Luar Negeri Prancis, Jerman, Inggris dan Perwakilan Tinggi Uni Eropa sangat prihatin dengan pengumuman terbaru bahwa Iran memulai kembali kegiatan pengayaan uranium di fasilitas Fordow," kata pernyataan itu menyusul laporan pengawas nuklir PBB.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengkonfirmasi langkah tersebut dalam sebuah laporan pada Senin.
Pada 6 November, Presiden Iran Hassan Rouhani mengumumkan bahwa negaranya mulai menyuntikkan gas ke 1.044 sentrifugal di fasilitas nuklir Fordow.
"Tindakan Iran tidak konsisten dengan ketentuan [Rencana Aksi Bersama Komprehensif] JCPoA yang jelas mengenai Fordow dan berpotensi memberikan implikasi parah pada proliferasi," kata pernyataan itu, merujuk pada kesepakatan nuklir Iran 2015.
"Ini merupakan percepatan yang disesalkan atas penarikan Iran dari komitmen di bawah JCPoA," tambah pernyataan tersebut.
Iran mulai mengurangi komitmennya di bawah kesepakatan nuklir 2015 sebagai tindakan balasan atas keputusan unilateral AS menarik diri dari kesepakatan yang dikenal dengan JCPoA itu.
"IAEA telah mengkonfirmasi dalam laporan terbarunya, termasuk dalam laporan triwulan terbaru 11 November, bahwa Iran melakukan semua langkah tersebut," ungkap pernyataan itu.
Menekankan pentingnya implementasi penuh dan efektif dari kesepakatan oleh semua pihak, negara-negara Eropa mengatakan mereka akan terus berupaya untuk melestarikan perjanjian.
Pernyataan bersama itu juga mendesak bahwa Iran harus kembali ke pelaksanaan penuh komitmennya di bawah JCPoA tanpa penundaan.