Kubra Chohan
09 September 2017•Update: 11 September 2017
Kubra Chohan
ANKARA
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, memuji Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev, atas dukungannya terhadap teror. Dalam sebuah konferensi pers bersama dengan Nazarbayev di Astana, Erdogan mengatakan bahwa Turki tidak hanya melawan Organisasi Teroris Fetullah (FETO) untuk kepentingannya sendiri, namun juga untuk sekutu-sekutunya.
“Semoga dengan bergandengan tangan, kami bisa memusnahkan kelompok yang mengancam keamanan nasional kedua negara. Kami akan memperbaiki kerja sama kami dalam memerangi organisasi teror seperti Daesh, FETO dan al-Qaeda,” katanya.
Ankara menyebut Organisasi Teroris Fetullah (FETO) dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Fetullah Gulen, sebagai dalang kudeta yang berhasil digagalkan pada 15 Juli 2016 lalu. Kala itu sebanyak 250 orang menjadi martir dan hampir 2.200 orang terluka.
Turki juga telah mengalami sejumlah serangan oleh Daesh, termasuk pemboman stasiun kereta Ankara pada bulan Oktober 2015 yang menewaskan lebih dari 100 orang.
Erdogan mengatakan, Turki dan Kazakhstan menjalin kemitraan strategis pada tahun 2009, yang kemudian berkembang menjadi Dewan Kerjasama Strategis Tingkat Tinggi Turki-Kazakhstan pada tahun 2012.
“Kami bertukar gagasan tentang pengorganisasian Dewan Kerjasama Strategis Tingkat Tinggi. Kami juga menyetujui hubungan ekonomi, komersial dan investasi,” ujar Nazarbayev.
Soal krisis Suriah
Dia mengatakan Kazakhstan adalah negara yang dianggap penting dan diprioritaskan oleh Turki dalam hal kemitraan ekonomi dan komersial, dan Turki akan menjadi tuan rumah untuk Nazarbayev pada sebuah pertemuan besar tahun depan.
Erdogan dan Nazarbayev juga dijadwalkan menghadiri pertemuan puncak Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pada hari Minggu. Sekitar 70 anggota komite dari 57 negara diharapkan menghadiri KTT tersebut.
Nazarbayev menekankan, Turki adalah salah satu mitra politik dan ekonomi Kazakhstan yang paling dekat dan dapat dipercaya. Karenanya, dia menilai pertemuan tingkat tinggi harus dilakukan lebih sering.
Tidak hanya itu, dia juga mengatakan bahwa kedua negara berkontribusi untuk menemukan solusi bagi krisis Suriah dengan mengadakan pembicaraan di Astana.
“Turki berkontribusi pada pembicaraan sebagai penjamin. Kekerasan di Suriah telah menurun akibat perundingan,” katanya.
Erdogan sebelumnya menyebutkan KTT Astana pada 14 September mendatang menjadi agenda yang penting bagi proses perundingan damai Jenewa.
Perundingan Jenewa mengenai Suriah diperkirakan akan berlangsung setelah pertemuan di Astana, namun belum ada tanggal yang dijadwalkan hingga kini.
Pembicaraan damai
Beberapa perundingan damai yang dilakukan di Ibu Kota Jenewa dan Kazakhstan, Astana, sejauh ini terbilang gagal mengakhiri konflik Suriah, di mana ratusan ribu orang sipil diyakini telah terbunuh sampai saat ini.
Turki dan Iran, bersama dengan Rusia, berperan penting untuk perundingan damai Astana di Suriah. Pada putaran terakhir perundingan di bulan Mei, ketiga negara mengumumkan rencana untuk mendirikan “zona de-eskalasi” di seluruh negara yang dilanda perang.
Selama Mei di Astana itu, Turki (yang mendukung oposisi Suriah) sepakat dengan Rusia dan Iran (yang mendukung rezim Assad) mengenai rencana untuk membangun jaringan zona de-eskalasi di berbagai wilayah Suriah yang dilanda perang.