Muhammet Emin Avundukluoglu
06 Maret 2018•Update: 07 Maret 2018
Muhammet Emin Avundukluoglu
ANKARA
Di tengah serangan bertubi-tubi rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad ke sejumlah wilayah di Suriah seperti Ghouta Timur, Presiden Turki pada Selasa mengatakan bahwa resolusi gencatan senjata PBB untuk Suriah tidak bermakna.
"Insiden yang terjadi di Ghouta Timur baru-baru ini sulit untuk dicerna, itu tidak sesuai dengan kemanusiaan," kata Erdogan kepada anggota parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) pada Selasa.
Menanggapi resolusi gencatan senjata PBB, Erdogan mengatakan, "Resolusi yang tidak pernah diterapkan tidak memiliki makna bagi kemanusiaan."
Erdogan menuding Dewan Keamanan PBB, yang mengeluarkan resolusi gencatan senjata selama 30 hari pada 24 Februari lalu telah memanipulasi kemanusiaan.
Sebelumnya, Erdogan juga mengkritik struktur Dewan Keamanan yang memiliki lima anggota tetap. "Dunia lebih besar dari lima," kata Erdogan
Meskipun Dewan Keamanan PBB telah mengadopsi resolusi gencatan senjata di Suriah, rezim Assad masih terus meluncurkan serangan ke Ghouta Timur yang terkepung dan menewaskan sekitar 756 orang dalam dua pekan terakhir, menurut agen pertahanan sipil White Helmets.
Rumah bagi sekitar 400.000 warga sipil, Ghouta Timur telah berada di bawah pengepungan rezim yang telah melumpuhkan kehidupan selama lima tahun terakhir. Pengepungan juga menghambat total akses kemanusiaan ke daerah tersebut.
Dalam delapan bulan terakhir, pasukan rezim telah memperketat pengepungan sehingga pengiriman makanan dan obat-obatan menjadi hampir tidak mungkin dilakukan.
-Operasi Ranting Zaitun
Erdogan mengatakan bahwa Operasi Ranting Zaitun yang diluncurkan Turki di wilayah Afrin, Suriah berlanjut dengan sukses.
Erdogan mengatakan bahwa wilayah seluas 700 kilometer persegi di Afrin telah dibersihkan dari para teroris dam telah terkendali berkat Turki.
Dia mencatat bahwa sebanyak 2.872 teroris telah dilumpuhkan sejak dimulainya operasi tersebut
"41 tentara kami dan 159 saudara kami dari Tentara Pembebasan Suriah telah gugur," kata Erdogan.
Erdogan menambahkan, "Koridor teror yang dicoba dibentuk di sepanjang perbatasan kami [...] hanya memiliki satu satu sasaran, yaitu Turki."
Turki pada 20 Januari lalu meluncurkan Operasi Ranting Zaitun untuk membasmi teroris PYD/PKK dan Daesh dari Afrin, Suriah.
Staf Umum Turki menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk menciptakan keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah tersebut, juga untuk melindungi masyarakat Suriah dari tekanan dan kekejaman teroris.
Operasi ini dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB, hak untuk membela diri di bawah Piagam PBB, dengan tetap menghormati integritas teritorial Suriah, kata pernyataan tersebut.
Pihak militer juga memastikan bahwa "sangat penting" supaya operasi tidak membahayakan warga sipil.
Afrin menjadi tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK ketika rezim Assad di Suriah menyerahkan kota tersebut kepada kelompok teror tanpa pertempuran pada Juli 2012 silam.