Muhammad Abdullah Azzam
04 November 2017•Update: 06 November 2017
Levent Tok
ISTANBUL
Ada ribuan keluarga yang tinggal di Ghouta Timur, suatu daerah di Damaskus yang saat ini dikepung rezim Assad. Konflik membuat mereka tak tahu bagaimana memberi asupan makanan layak kepada anak-anak.
Setiap hari, mereka harus mengirim anak mereka ke sekolah dalam keadaan kelaparan. Ibrahim Muhammad, salah satunya.
Bapak dari enam anak ini kehilangan pekerjaannya. Kini, dia harus menjatah setengah porsi makanan untuk keluarganya dalam sehari.
Ibrahim menggambarkan keadaan ini kepada Anadolu Agency sebagai “bencana”. Selain susah mencari makan, obat-obatan juga mulai jarang. Satu-satunya harapan kini adalah menggantungkan belas kasihan dari lembaga-lembaga kemanusiaan.
“Seandainya tidak ada lembaga kemanusiaan yang datang ke sini, maka keadaan akan semakin memburuk,” kisah dia.
Maryam, istri Ibrahim, tak kalah sedih. Setiap kali melihat keenam anaknya yang mengeluh kelaparan, “Saya tidak tahu harus berbuat apa,” kata dia.
Dua tahun lalu, keluarga Ibrahim mengungsi ke Ghouta Timur dari Deir al-Asafir, karena menghadapi serangan rezim Assad yang bertubi-tubi. Tiba di Ghouta Timur, mereka malah harus menghadapi kondisi pengepungan yang semua serba susah.
“Anak-anak pergi sekolah tanpa sarapan. Bagaimana mereka bisa mengerti pelajaran yang diajarkan, kalau mereka kelaparan?” ujar Maryam.
Hibah, anak terkecil Ibrahim dan Maryam bercerita pilu, “Saya pergi ke sekolah tanpa sarapan. Di sekolah juga tidak ada makanan. Di kelas, kepala saya jadi pusing.”