Maria Elisa Hospita
28 Desember 2017•Update: 28 Desember 2017
ANKARA
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengatakan, proses evakuasi medis dari distrik yang dikepung, Ghouta Timur, daerah pinggiran Damaskus, Suriah telah dimulai.
Lewat akun Twitter-nya, ICRC menjelaskan bahwa para anggotanya, bersama dengan Bulan Sabit Merah Suriah (SARC) telah memulai proses evakuasi medis darurat dari Ghouta Timur ke pusat Damaskus.
Menurut SARC, keputusan tersebut merupakan hasil dari "diskusi panjang" antara pejabat SARC dengan perwakilan Federasi Palang Merah Internasional.
Sementara itu, pejabat rezim Suriah masih belum berkomentar soal proses evakuasi tersebut.
Ratusan warga Ghouta Timur yang telah menderita di bawah kepungan rezim selama lima tahun terakhir membutuhkan pertolongan medis sesegera mungkin. Banyak bayi dan anak berusia bawah lima tahun yang tewas karena malnutrisi akut dan kelaparan.
Selama delapan bulan terakhir, rezim Assad telah meningkatkan pengepungan ke Ghouta Timur, sehingga hampir tidak mungkin menyalurkan bantuan makanan ataupun obat ke distrik tersebut, dan akhirnya menyebabkan penumpukan ratusan pasien.
"Jumlah orang yang membutuhkan evakuasi karena terbatasnya jumlah obat dan peralatan medis kini telah mencapai 600 jiwa. Jumlah ini kemungkinan besar akan terus meningkat dalam waktu dekat," ujar Fayez Arabi, juru bicara Direktorat Kesehatan Desa Damaskus, kepada Anadolu Agency.
Menurut Arabi, kebanyakan dari mereka yang menunggu evakuasi dari distrik tersebut membutuhkan perawatan kanker atau operasi darurat.
"Sejauh ini, 30 pasien kanker telah meninggal dunia dikarenakan kurangnya akses perawatan. 13 lainnya telah meninggal akibat tidak tersedianya obat," ungkap dia.
Menurut pihak Rumah Sakit Khusus Desa Damaskus, sejak 2014, sebanyak 527 bayi meninggal di Ghouta Timur. 227 di antaranya meninggal dalam kurun waktu 10 bulan pertama tahun ini, karena malnutrisi dan jumlah obat yang terbatas.
Ghouta Timur yang merupakan rumah bagi 400.000 jiwa, masih berada di bawah kepungan rezim Assad sejak akhir 2012.
Distrik tersebut berada dalam zona de-eskalasi - yang didukung oleh Turki, Rusia, dan Iran - yang mana melarang keras tindakan agresi.
Perang sipil Suriah meletus pada awal tahun 2011, ketika rezim Assad menyerang aksi demonstrasi kelompok pro-demokrasi secara brutal.