Maria Elisa Hospita
02 Agustus 2018•Update: 03 Agustus 2018
Hiba Sait
IDLIB, Suriah
Tiga faksi militer pada Rabu bersatu untuk menghimpun kekuatan tempur yang terdiri dari 100.000 pasukan, yang disebut-sebut sebagai entitas oposisi militer terbesar bagi rezim Bashar al Assad di pusat Hama, Suriah, dan wilayah barat laut Idlib.
Menurut seorang sumber di oposisi Suriah, Front Pembebasan Suriah dan Brigade Suqour al-Sham bergabung dengan Front Nasional untuk Pembebasan Suriah yang berafiliasi dengan Tentara Pembebasan Suriah (FSA).
Tujuannya adalah untuk menyatukan faksi-faksi FSA dalam satu entitas.
Front Pembebasan Nasional akan terus beroperasi di bawah Fadlallah al-Haji.
Suriah telah menderita di bawah perang sipil sejak awal tahun 2011, ketika rezim Assad menyerang kelompok pro-demokrasi dengan brutal.
Perang itu telah memicu konflik militer antara kelompok oposisi Suriah dan rezim Assad atas wilayah-wilayah yang dilanda perang.
Iran telah mendukung rezim Assad selama perang, sementara Rusia melakukan intervensi pada September 2015.
Perundingan damai telah berlangsung di Jenewa pada tahun 2012 untuk menemukan solusi politik bagi konflik itu, sementara perundingan Astana dimulai pada tahun 2017 untuk membahas gencatan senjata.
Ratusan ribu warga sipil tewas karena konflik tersebut, terutama akibat serangan udara rezim yang menargetkan daerah-daerah yang dikuasai oposisi. Selama konflik, rezim Assad telah berkali-kali dikecam oleh pihak-pihak internasional karena menyerang warga Suriah dengan senjata kimia.