Dwi Nur Arry Andhika Muchtar
15 April 2018•Update: 17 April 2018
ANKARA
Beberapa negara Arab telah menyuarakan dukungannya kepada serangan yang dipimpin Amerika Serikat (AS) yang menargetkan tempat penyimpanan senjata kimia rezim Assad pada Sabtu.
AA, Prancis dan Inggris melancarkan serangan tersebut setelah dugaan adanya penggunaan senjata kimia yang menewaskan puluhan nyawa di Douma, dekat Damaskus, Ghouta Timur.
Dalam sebuah pernyataan, Arab Saudi "mendukung sepenuhnya" serangan udara sebagai "respon atas penggunaan senjata kimia oleh rezim Assad yang menewaskan masyarakat sipil yang tidak bersalah, termasuk wanita dan anak-anak."
"Penggunaan senjata yang telah dicegah secara internasional adalah lanjutan kejahatan yang dilakukan oleh rezim Assad selama bertahun-tahun kepada masyarakat Suriah," ujar sebuah sumber dengan Kementerian Luar Negeri, dikutip oleh kantor berita SPA.
Kementerian Luar Negeri Qatar juga mendukung serangan yang dipimpin oleh AS terhadap "target spesifik, yang digunakan oleh rezim Assad untuk membunuh masyarakat sipi."
Dalam sebuah pernyataan, kementerian menegaskan kembali dukungan untuk semua upaya internasional yang ditujukan untuk mencapai solusi politik "yang memenuhi aspirasi masyarakat Suriah dan mempertahankan integritas wilayah Suriah."
Bahrain juga menyatakan dukungannya kepada serangan yang menargetkan pangkalan militer dan tempat penyimpanan senjata kimia di Suriah.
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Bahrain menyatakan serangan tersebut "sangat penting untuk melindungi masyarakat sipil Suriah dan mencegah penggunaan senjata yang telah dilarang."
Solusi Politik
Sementara Kuwait, menyesalkan "eskalasi yang berbahaya" di Suriah.
Sebuah sumber Kementerian Luar Negeri mengatakan serangan yang dilancarkan tersebut adalah hasil dari kegagalan Dewan Keamanan PBB untuk meraih solusi politik terhadap konflik yang telah berlangsung selama 7 tahun, menurut kantor berita KUNA.
Mesir, sementara itu, menyuarakan perhatiannya terhadap "eskalasi militer di Suriah".
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri mengatakan bahwa mereka menolak penggunaan senjata yang dilarang secara internasional di Suriah, menyerukan penyelidikan yang transparan atas tuduhan penggunaan senjata kimia di negara tersebut.
Yordania menyerukan untuk mencapai solusi politik untuk konflik di Suriah.
"Solusi politik adalah satu-satunya jalan keluar krisis di Suriah, yang telah memasuki tahun ke-8 untuk menjamin stabilitas, integritas wilayah dan keamanan Suriah," ujar juru bicara pemerintah Mohammad al-Momani dalam sebuah pernyataan.
Kementerian Luar Negeri Irak menyebut serangan yang dipimpin oleh AS sebagai "tindakan yang berbahaya".
"Kami menganggap perilaku ini sangat berbahaya karena dampaknya pada warga yang tidak bersalah," kata juru bicara kementerian, Ahmad Mahjoub dalam sebuah pernyataan.
Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan serangan yang dipimpin AS "tidak berkontribusi untuk menemukan solusi politik terhadap krisis Suriah."
"Dialog telah menjadi suatu keharusan untuk menghentikan situasi yang memburuk dan mengurangi campur tangan asing yang telah memperumit krisis Suriah," ujar Aoun dalam sebuah pernyataan.
"Lebanon menolak segala serangan yang dilakukan asing kepada negara Arab, apapun alasannya," ia menekankan.
Konflik Suriah dimulai pada awal 2011 ketika rezim Bashar al-Assad menindak keras para demonstran dengan keganasan yang tak terduga.
Menurut PBB, ratusan ribu orang tewas dalam konflik dan jutaan orang mengungsi.