İqbal Musyaffa
19 Mei 2018•Update: 21 Mei 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al Shun dalam keterangan resmi yang diberikan kepada Anadolu Agency, Sabtu, menegaskan Palestina tidak lagi percaya terhadap AS untuk dapat menyelesaikan konflik antara Palestina dan Israel.
Hal tersebut terkait dengan kasus kekerasan di Gaza yang menewaskan lebih dari 60 orang Palestina yang menentang pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Sejak tahun 1991, menurut dia, jutaan orang Palestina memegang harapan bahwa AS berkomitmen untuk perdamaian, terutama seperti yang terlihat dalam tulisan yang diasumsikan Amerika Serikat untuk menerapkan resolusi internasional dan menghormati masalah Yerusalem sebagai pernyataan akhir.
Sebaliknya, pemerintah AS menurut dia telah bertindak dengan cara yang memecah-belah, menghilangkan dirinya dari peran pembawa perdamaian yang meletakkan beban penuh di belakang kekuatan anti-perdamaian minoritas yang percaya pada permainan zero-sum.
“Serta memperdalam ketidakpastian dan kecemasan yang sudah sangat dalam di Palestina dan di luarnya,” tegas Zuhair.
Pemindahan kedutaan besar oleh AS menurut dia telah mendorong AS dan Israel untuk menyeberangi garis ke arah praktik apartheid penuh, yang sebenarnya telah ditentang oleh banyak pemimpin AS dan internasional.
“Langkah ini menandai berakhirnya era ketika Amerika Serikat memimpin upaya internasional untuk mencapai solusi negara, mengakhiri pendudukan Israel yang dimulai pada 1967 termasuk Yerusalem Timur,” tegas Zuhair.
Tindakan ini, lanjut Zuhair, tidak hanya meniadakan sejarah dan realitas yang hidup dari seluruh bangsa, namun juga menolak sentralitas Yerusalem dalam kehidupan jutaan orang Palestina Kristen dan Muslim.
“Tragisnya, pemerintah AS telah memilih sisi dengan klaim eksklusif Israel atas sebuah kota yang selama berabad-abad telah sakral bagi semua agama,” lanjut dia.
Langkah AS tersebut menurut Zuhair telah memberi kehidupan pada konflik agama dan tidak membawa perdamaian secara bermartabat.
Pemerintah dan rakyat Palestina, kata Zuhair, tidak akan menyerah untuk meraih perdamaian.
“Kami akan membela hak-hak kami yang disahkan secara internasional, termasuk hak untuk menentukan nasib sendiri di negara berdaulat Palestina yang independen dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya,” ungkap Zuhair.
Zuhair menegaskan, pemerintah Palestina tidak akan menyimpang dari langkah yang sudah dilakukan selama puluhan tahun dengan mitra internasional Palestina untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik untuk semua orang di wilayah tersebut.