Maria Elisa Hospita
02 Maret 2020•Update: 02 Maret 2020
Haydar Karaalp
BAGHDAD
Perdana Menteri Irak yang ditunjuk, Mohammed Allawi, mundur dari tugasnya membentuk pemerintahan pada Minggu.
"Saya tidak akan tunduk pada tekanan dari partai politik," tegas dia.
Allawi pun menekankan bahwa dia berupaya menyelamatkan negara dari ketidakpastian, sehingga dia akan membentuk pemerintahan yang mandiri.
Tak hanya itu, Allawi juga meminta para demonstran untuk melanjutkan unjuk rasa mereka demi memperjuangkan hak-hak mereka.
Dia mengatakan telah memberi tahu Presiden Barham Salih tentang keputusannya itu.
Salih pun akan menunjuk kandidat lain untuk membentuk pemerintahan dalam waktu 15 hari.
Irak telah diguncang gelombang protes sejak Oktober karena kondisi kehidupan yang buruk dan angka pengangguran yang tinggi, yang memaksa Perdana Menteri Adel Abdul-Mahdi untuk mengundurkan diri.
Lebih dari 600 orang tewas dan 17.000 terluka sejak aksi protes meletus.
Pada 29 November 2019, Abdul-Mahdi mengumumkan pemerintahnya akan mundur per 2 Maret.
Jika sampai tenggat waktu itu parlemen gagal menyetujui pemerintah baru, maka Irak akan menghadapi kekosongan konstitusional.