Dunia

'Arab Saudi dan Iran tak mungkin segera normalisasi hubungan'

Putra mahkota Saudi baru-baru ini mengumumkan perubahan kebijakan luar negeri, namun masih banyak hambatan untuk mencapai hubungan yang lebih baik

Gülsüm İncekaya   | 04.05.2021
'Arab Saudi dan Iran tak mungkin segera normalisasi hubungan' Putera Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammad bin Salman. (BANDAR ALGALOUD / SAUDI KINGDOM COUNCIL / HANDOUT - Anadolu Agency )

Istanbul

Gulsum Incekaya

ISTANBUL

Pakar politik mengatakan kemungkinan normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Iran sangat kecil terjadi dalam jangka pendek karena perbedaan yang signifikan.

Pekan lalu, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman mengatakan Iran adalah negara tetangga dan Saudi bercita-cita memiliki hubungan yang baik dan terhormat dengannya.

"Kami ingin Iran yang sejahtera dan memiliki kepentingan bersama satu sama lain, tetapi masalah kami adalah tindakan negatif mereka, seperti program nuklirnya atau dukungan untuk milisi terlarang di kawasan itu, atau program rudal balistiknya," kata bin Salman kepada Al Arabiya TV.

“Kami bekerja dengan mitra kami untuk mengatasi masalah ini, dan kami berharap dapat mengatasinya dan memiliki hubungan yang baik dan positif dengan semua orang," tambah dia.

Sementara bin Salman tidak membagikan perincian lebih lanjut, harian Inggris The Financial Times baru-baru ini melaporkan bahwa delegasi Saudi dan Iran bertemu di ibu kota Irak, Baghdad, pada 9 April.

Menurut laporan itu, pertemuan tersebut ditujukan untuk meredakan ketegangan antara rival regional. Serangan terhadap Arab Saudi oleh pemberontak Houthi Yaman juga menjadi bagian dari diskusi.

Berbicara kepada Anadolu Agency, Prof Cengiz Tomar, wakil kepala Universitas Turki-Kazakh Internasional Ahmet Yesevi, mengatakan putra mahkota Saudi mengungkapkan perubahan kebijakan yang signifikan.

Mencatat bahwa kebijakan Presiden AS Joe Biden telah memengaruhi Timur Tengah secara signifikan, Tomar menekankan bahwa konvergensi Mesir dan Turki adalah contoh terbaik.

Tomar mengatakan putra mahkota Saudi tidak hanya berbicara tentang meningkatkan hubungan dengan Iran tetapi juga fokus dalam pidatonya untuk menghilangkan ekstremisme di kerajaan.

Dia mengatakan pernyataan putra mahkota bahwa ada 90 persen konsensus antara AS dan negaranya berarti perang melawan Iran akan dilanjutkan melalui metode yang berbeda di bawah kepemimpinan Washington.

"Pernyataan ini berarti bahwa Arab Saudi tidak akan lagi memerangi Iran dengan mendukung gerakan ekstrem Sunni. Ini adalah perkembangan yang sangat penting bagi seluruh dunia dan Timur Tengah, dan jika itu terjadi, akan membantu memadamkan api yang ada di kawasan itu," tambah dia.

Namun, karena bin Salman menyebut program nuklir Iran sebagai "masalah negatif", Tomar mengindikasikan bahwa tampaknya sulit untuk melihat perkembangan dalam jangka pendek.

Serhan Afacan, seorang akademisi di Institut Studi Timur Tengah Universitas Marmara, mengatakan bagian yang paling luar biasa dari pidato bin Salman adalah bahwa dia mengatakan mereka bekerja dengan mitra global dan regional untuk menemukan solusi bagi masalah yang sangat sulit diatasi.

Dia mencatat bahwa ketegangan antara Syiah Iran dan Sunni Arab Saudi tidak hanya karena perbedaan ideologis dan menambahkan bahwa tujuan utama pernyataan Mohammed bin Salman adalah AS.

Afacan mengatakan bin Salman ingin menyampaikan pesan kepada Washington bahwa mereka tidak bisa menggunakan dirinya untuk menakut-nakuti Iran dan bahwa dia dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dengan Iran.

"Untuk Arab Saudi, proksi Iran dan rudal balistik setidaknya menjadi masalah yang sama banyaknya dengan program nuklirnya, dan mungkin bahkan lebih. Dengan kata lain, penting bahwa cara ini berubah menjadi tindakan yang berarti," tegas dia.

Rahim Farzam, pakar kebijakan luar negeri di Pusat Studi Iran (IRAM) di Ankara, mengatakan bahwa berita kemungkinan normalisasi antara Iran dan Arab Saudi, yang tidak memiliki hubungan diplomatik sejak 2016, muncul tepat setelah AS mengisyaratkan perubahan dalam pendekatannya terhadap Iran setelah kepergian mantan Presiden Donald Trump.

Dia mencatat bahwa Presiden AS saat ini, Joe Biden, menerapkan kebijakan yang sangat lunak terhadap Iran, tidak seperti Trump.

"Washington, yang bahkan tidak bereaksi terhadap penargetan sekutu terpentingnya Israel di Timur Tengah oleh milisi yang didukung Iran, akan menghidupkan kembali kesepakatan nuklir. Sikap Washington yang memprioritaskan diplomasi dengan Iran harus dibaca sebagai pesan yang kuat kepada sekutu AS di Timur Tengah," kata Farzam.

"Diplomasi muncul sebagai pilihan bijak untuk Riyadh. Bagi Iran itu untuk meningkatkan hubungan dengan negara-negara Teluk, khususnya Arab Saudi," ujar dia.

Namun Farzam mencatat bahwa banyak perbedaan mendasar yang harus diatasi agar kedua negara dapat meningkatkan hubungan.

"Oleh karena itu, kecil kemungkinan bahwa negosiasi ini akan menghasilkan hasil yang sukses yang akan menutup kesenjangan antara kedua negara," tambah dia.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın