Adam Abu Bashal
05 April 2018•Update: 07 April 2018
Adam Abu Bashal
ABUJA
Setidaknya 54 orang tewas selama seminggu terakhir ini akibat konflik yang berlangsung antara penggembala dan petani di provinsi Zamfara, Nigeria.
Selain itu sekitar 7.000 warga terpaksa mengungsi akibat konflik berdarah tersebut.
Koordinator Badan Nasional Penanggulangan Bencana (NEMA) wilayah timur laut Sulaiman Mohammad mengatakan konflik antara kedua kelompok tersebut berlanjut di daerah Baudi, Tungan, Doka, Zanoka, Akuzo dan Dogon Ruwa di provinsi Zamfara.
Mohammad mencatat bahwa sedikitnya 54 orang tewas dalam bentrokan yang terjadi selama seminggu terakhir. selain itu 7.000 orang telah mengungsi dari kampung halamannya.
Mohammad mengatakan, mayoritas korban tewas adalah wanita dan anak-anak, 71 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Mohammad mengungkapkan, 30 rumah terbakar dan sekitar seribu sapi terbunuh dalam konflik tersebut.
Komunitas penggembala ternak nomaden etnis Fulani yang bermigrasi ke bagian selatan Nigeria untuk mencari makanan untuk hewan-hewan mereka dituduh telah mencoba mencuri hewan-hewan dan menyerang penduduk petani lokal.
Kedatangan komunitas penggembala etnis Fulani ke wilayah selatan Nigeria diawali pada abad ke-18, saat seorang ulama bernama Sheikh Usman Dan Fodio berusaha menyebarkan ajaran-ajaran Islam ke masyarakat setempat yang mayoritas penduduknya adalah umat Kristiani.
Kekerasan antara penggembala dan petani telah menjadi masalah serius di Nigeria, terutama di jalur tengah atau tengah selatan yang merupakan kawasan agraris, dengan kedua belah pihak sering saling menuduh.
Banyak pemerintah provinsi, seperti Benue, telah mencoba menyelesaikan pertikaian dengan mengeluarkan undang-undang anti penggembalaan, yang dianggap para penggembala tidak adil.
Pengamat mengatakan konflik itu disebabkan perebutan lahan yang makin sengit karena berkurangnya sumber daya alam dan menipisnya kekayaan Danau Chad.