Ekip
02 Maret 2019•Update: 03 Maret 2019
Md. Kamruzzaman
DHAKA, Bangladesh
Penduduk desa di Malaysia menemukan 35 wanita dan anak-anak Rohingya terlantar di sepanjang pantai di negara bagian Perlis, negara bagian paling utara di negara itu, lansir Radio Free Asia (RFA).
Menurut pejabat Malaysia, sindikat perdagangan manusia mengirim mereka dari Thailand.
“Berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh petugas saya yang berada di tempat kejadian, sekelompok imigran ilegal yang diyakini berasal dari Rohingya ditemukan di sisi jalan, sementara kelompok lain masih di laut dan dibantu ke pantai oleh masyarakat," kata kepala polisi Noor Mushtar Mohd.
Mohd menyampaikan kemungkinan para warga Rohingya itu telah diturunkan oleh kapal penangkap ikan sebelum fajar pada Jumat.
Para warga Rohingya itu juga harus melalui pantai berlumpur sebelum mereka diselamatkan penduduk desa yang memberi makanan dan pakaian.
"Para wanita dan anak-anak Rohingya diberi makan sebelum mereka diserahkan kepada petugas imigrasi yang mengangkut mereka ke Kantor Imigrasi Belantik, sekitar 134 kilometer (83 mil) selatan," tambahnya.
Juru bicara (UNHCR) di Kuala Lumpur, Yante Ismail, mengatakan kepada media lokal bahwa badan tersebut akan menghubungi pihak berwenang Malaysia untuk mencari akses ke orang-orang ini dan memberikan bantuan kemanusiaan kepada mereka.
Pada Kamis, Md Shahidul Haque, Sekretaris Menteri luar Negeri Bangladesh, negara tuan rumah lebih dari 1,2 juta pengungsi Rohingya, mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa negara itu tidak lagi sanggup menampung pengungsi Rohingya.
"Hari ini, tanpa identitas hukum, mereka berada di tangan para penyelundup dan pengedar narkoba," kata Utusan Kemanusiaan PBB Ahmed Al Meraikhi di ibukota Bangladesh, Dhaka pada 27 Februari setelah kunjungan dua hari ke kamp-kamp Rohingya di distrik Cox Bazar.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar wanita dan anak-anak, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan serangan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.
Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya telah terbunuh oleh pasukan Myanmar, menurut laporan oleh Ontario International Development Agency (OIDA).
Lebih dari 34.000 Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, kata laporan OIDA yang berjudul "Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience"
Sekitar 18.000 perempuan dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar.
Sementara lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak.