Dunia, Budaya

Pemuda Amerika percaya Israel lakukan genosida di Gaza

Generasi muda Amerika yang berada pada usia pemilih semakin menentang kebijakan Israel di Gaza dibandingkan dengan masyarakat umum

Muhammad Abdullah Azzam  | 30.01.2024 - Update : 11.07.2024
Pemuda Amerika percaya Israel lakukan genosida di Gaza

ISTANBUL

Semakin banyak anak muda di Amerika Serikat (AS) yang menganggap serangan Israel di Gaza merupakan tindakan dengan unsur genosida, dan di sisi lain mereka juga menyerukan otoritas Biden untuk mendukung gencatan senjata guna menyelamatkan nyawa di Gaza.

Di saat Mahkamah Internasional (ICJ) memproses tuntutan genosida terhadap Israel atas perilaku perangnya di Jalur Gaza, data jajak pendapat yang dirilis pada Rabu lalu menunjukkan bahwa mereka yang berusia 18-29 tahun lebih cenderung setuju bahwa Israel melakukan genosida di Gaza dibandingkan kelompok umur lainnya,menurut data jajak pendapat Economist/YouGov.

Ara Roslop, 21, mahasiswa di Universitas Amerika di Washington, mengatakan kepada Anadolu bahwa dia pernah berkunjung ke Tepi Barat yang diduduki dan memiliki teman-teman Palestina yang keluarganya tinggal di Gaza.

Ketika ditanya apakah menurutnya apa yang terjadi di Gaza merupakan genosida, Roslop menjawab: “Ya, saya yakin. Atau setidaknya pembersihan etnis, dan setidaknya kejahatan perang.”

Dia meminta pemerintahan Biden untuk mendukung gencatan senjata, dan menambahkan harus ada “upaya serius untuk membangun kembali Gaza.”

Apa yang terjadi di Gaza “benar-benar gila,” tambah dia.

Will Belluche, 21, yang kuliah di universitas yang sama, mengatakan dirinya telah mengikuti berita terkait Gaza di media sosial dan juga di surat kabar, seperti harian Haaretz Israel.

“Saya telah mengikuti keputusan ICJ, dan saya bukan ahli hukum tentang genosida,” sebut dia, sambil merujuk pada Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, yang mengeluarkan keputusan sementara pekan lalu dalam kasus genosida terhadap Israel.

“Tetapi sungguh mengerikan melihat pemerintahan Netanyahu (Perdana Menteri Israel Benjamin) berusaha mengusir semua warga Palestina dari Gaza,” ucap Belluche.

Dia mengatakan ada penyerangan secara massal terhadap warga sipil dan juga penghancuran infrastruktur sipil yang disengaja, termasuk rumah sakit dan universitas yang dihancurkan.

“Saya pikir semua orang harus bebas. Saya pikir harus ada Palestina yang merdeka. Saya pikir masyarakat punya hak untuk hidup dan hak untuk hidup,” imbuh dia.

Sydney Packim mengatakan dia sedikit tidak mengetahui mengenai apa yang terjadi di Gaza namun dia menyebut “hal ini sangat menghancurkan.”

“Saya menganggap ini mungkin upaya genosida, pendapat pribadi saya, terhadap rakyat Palestina,” kata dia.

“Saya pikir sesuatu perlu dilakukan karena itu tidak benar. Itu tidak benar. Dan menurut saya kita tidak bisa terus mendukung negara yang mendorong genosida,” tutur dia.

Michael Caron, 20, yang juga belajar di American University, mengatakan dia telah menyaksikan apa yang terjadi di Gaza lewat internet.

“Israel telah sepenuhnya merebut dan mengambil alih Gaza. Mereka mengebom kota-kota akibat serangan yang terjadi pada 7 Oktober, padahal serangan ini sudah berlangsung selama lebih dari tujuh tahun,” sebut dia.

“Saya kira yang terjadi di sana adalah genosida, sejujurnya,” tambah dia, sambil menambahkan bahwa dia kecewa dengan kebijakan AS.

Sunita, 18, dari universitas yang sama mengatakan dia mengetahui apa yang terjadi di Gaza sekitar setahun yang lalu dari seorang teman, dan setelah 7 Oktober, dia mengetahui lebih banyak tentang semua hal yang telah terjadi selama 75 tahun terakhir di sana,” ungkap dia.

“Saya pikir ini merupakan genosida. Orang-orang sekarat. Ribuan orang sekarat,” kata dia.

Israel melancarkan serangan mematikan di Jalur Gaza menyusul serangan lintas batas oleh kelompok Palestina Hamas pada 7 Oktober, menewaskan sedikitnya 26.637 warga Palestina dan melukai 65.387 orang. Hampir 1.200 warga Israel diyakini tewas dalam serangan Hamas.

Serangan Israel telah menyebabkan 85 persen penduduk Gaza menjadi pengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih dan obat-obatan, sementara 60 persen infrastruktur di wilayah kantong tersebut telah rusak atau hancur, menurut PBB.

ICJ pada Jumat mengeluarkan keputusan sementara yang memerintahkan Israel untuk mengambil “semua tindakan sesuai kewenangannya” untuk mencegah tindakan genosida di Gaza namun Pengadilan gagal dalam memerintahkan gencatan senjata.

Afrika Selatan mengajukan kasus ini akhir Desember dan meminta pengadilan PBB itu untuk mengeluarkan perintah agar Israel mengambil tindakan darurat untuk mengakhiri pertumpahan darah di Gaza. Mayoritas korban tewas, yang mewakili sekitar dua pertiganya, adalah perempuan dan anak-anak.

Ribuan lainnya diperkirakan tewas di bawah reruntuhan setelah perang Israel menghancurkan sebagian besar wilayah kantong tersebut. Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın