04 Agustus 2017•Update: 06 Agustus 2017
Shenny Fierdha
BOGOR
Krisis Palestina dan kawasan Masjid al-Aqsa di Yerusalem kini bukan lagi milik politisi maupun aktivis saja. Musisi pun sudah melakukan aksi nyata untuk turut menolong sesama muslim di Palestina.
Vokalis band indie Payung Teduh, Mohammad Istiqamah “Is” Djamad, dan penyanyi jebolan ajang pencarian bakat Indonesian Idol, M. Ihsan Tarore, turut bergabung dalam acara musik bertajuk “The Sound of Humanity, Palestina adalah Kita”. Kegiatan ini digelar di Forest Coffee and Food Camp, Depok, Jawa Barat sebagai bentuk kepeduliaan terhadap krisis kemanusiaan di Palestina.
Kedua artis tersebut menyanyikan sejumlah lagu dan melelang barang mereka kepada para penonton. Uang hasil lelang tersebut lalu diberikan kepada organisasi kemanusiaan Dompet Dhuafa (DD) untuk didonasikan kepada masyarakat Palestina.
Bagi kedua musisi dan DD, musik dapat menjadi magnet agar masyarakat bederma lebih banyak untuk Palestina, di samping menyebarkan informasi terkini seputar keadaan di sana.
“Sayal lakukan apa yang bisa saya lakukan sesuai porsi saya. Saya bernyanyi untuk mereka [Palestina], posting di media sosial mengenai acara ini juga,” kata Is kepada Anadolu Agency sebelum acara mulai.
Pria berusia 33 tahun ini mengatakan, sudah saatnya anak muda beraksi. Jangan hanya mengandalkan pejabat pemerintahan untuk berdiplomasi. Sebab, dibutuhkan lebih dari sekedar diplomasi untuk menyelamatkan Palestina.
“Palestina itu muara aksi dari semua manusia sedunia. Dengan adanya krisis, terlihat wujud pribadi setiap orang; apakah diam saja atau do something,” tukas pria berambut panjang ini.
Besar di keluarga religius dan menanamkan nilai-nilai kebaikan, Is merasa itulah yang membuatnya spontan tergerak berkontribusi kepada negara Timur Tengah itu.
“Saya seperti mendapat hidayah. Tidak lama sesudah insiden penutupan Masjid al-Aqsa, saya tergugah untuk membantu tapi bingung di mana venue yang tepat untuk mengadakan acaranya,” ujar pria kelahiran Makassar (Sulawesi Selatan) itu.
Pelantun lagu “Resah” dan “Menuju Senja” tersebut mengatakan selalu ada alasan positif di balik setiap peristiwa, tak terkecuali krisis Palestina. Menurutnya, problem kemanusiaan di sana ada supaya semua orang saling tolong dan menghimpun amal ibadah yang bisa membantunya di akhirat kelak.
Tak hanya krisis Palestina, Is dengan band-nya juga kerap merespon bencana di dalam negeri, antara lain erupsi Gunung Sinabung dan banjir bandang yang melanda Sumba, Nusa Tenggara Timur, April ini.
Caranya sederhana. Saat sedang menggelar konser, ia cukup mengedarkan kardus kosong kepada panitia di balik panggung. Penggemar sepakbola ini lalu meminta mereka menyisihkan uangnya untuk donasi.
Sering pula kardus tersebut dibawa ke atas panggung lalu Is meminta penonton mengedarkannya selama pertunjukan.
Fakta bahwa musik bisa menggerakkan massa memang sudah diakui banyak musisi, tak terkecuali Ihsan.
“Terlepas dari selera setiap individu, musik punya kekuatan untuk menyatukan dan menyembuhkan,” kata pemuda kelahiran 20 Agustus 1989 itu.
Ia pun mengaku prihatin dengan situasi yang memburuk di Palestina akibat insiden penutupan Masjid Al-Aqsa pertengahan Juli ini. Menurutnya situasi hak asasi manusia di Palestina semakin meresahkan dan tidak kondusif.
“Bayangkan saja, orang sedang beribadah diganggu sehingga tidak tenang ibadahnya. Padahal sholat kan cuma sebentar,” ungkapnya.