Ekonomi, Repertoar, Berita analisis

Ketika tarif batas atas tiket pesawat tak bertaji

Pencarian tiket melalui online travel agent memunculkan penerbangan multi-rute sehingga harga tiket melonjak tajam

Nicky Aulia Widadio   | 29.05.2019
Ketika tarif batas atas tiket pesawat tak bertaji Ilustrasi. Ratusan penumpang kereta api bersiap masuk ke dalam kereta di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, 8 Juni 2018. Di Indonesia, mudik merupakan tradisi tahunan bagi masyarakat muslim Indonesia untuk pulang ke kampung halaman untuk sholat idul fitri dan berlebaran dengan keluarga terdekat. (Eko Siswono Toyudho - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Nicky Aulia Widadio

JAKARTA (AA) - Kebijakan pemerintah untuk menurunkan tarif batas atas (TBA) pada musim mudik lebaran dianggap tidak signifikan menurunkan harga tiket penerbangan domestik.

Sejumlah pemudik masih terbebani dengan mahalnya tarif tiket pesawat sehingga memengaruhi rencana mudik mereka.

Salah satu pekerja swasta di Jakarta, Annisa Fitri Ade Mauna, 26, memilih tidak mudik di Padang, Sumatera Barat untuk merayakan Idul Fitri kali ini.

Dea, sapaan akrabnya, mengaku kaget melihat harga tiket penerbangan Jakarta-Padang mencapai Rp9 juta dengan rute Jakarta-Medan dan Medan-Padang pada.

Sistem pencarian di online travel agent yang dia gunakan pada Rabu pagi hanya menampilkan rute transit, sebab tidak ada lagi penerbangan langsung dari Jakarta menuju Padang.

“Masa mau ke Padang saja harus transit segala di Medan,” ujar Dea, ketika dihubungi Anadolu Agency, pada Rabu.

Dea telah memantau harga tiket sejak bulan lalu, namun harga tiket pesawat termurah yang dia temukan saat itu ialah Rp2,7 juta untuk rute Jakarta-Padang dan Rp1,4 juta untuk rute Padang-Jakarta.

Menurut Dea, ongkos senilai Rp4,1 juta pulang pergi Jakarta-Padang masih terlalu mahal sehingga saat itu dia tidak langsung memesan. Harga itu juga belum termasuk ongkos ke bandara dan biaya tambahan lainnya.

Dia sempat mempertimbangkan untuk mudik menggunakan jalur darat untuk menghemat biaya, namun terpaksa dia batalkan setelah menimbang waktu dan tenaga lebih yang harus disiapkan.

“Sempat kepikiran untuk melalui jalur darat, tapi karena kondisi fisik enggak memungkinkan dan takut sakit akhirnya enggak jadi mudik,” ujar dia.

Pemudik lain, Fakhrur Razi, 26, memilih pulang kampung menggunakan bus ke Bukittinggi, Sumatra Barat.

Razi membeli tiket bus seharga Rp400 ribu dengan fasilitas setara bus pariwisata dengan pendingin udara, toilet, dan televisi.

Harga itu jauh lebih murah dibanding tiket pesawat untuk pulang-pergi, meski Razi harus menempuh perjalanan dua hari dua malam sebagai konsekuensinya.

Namun Razi tidak mempermasalahkan waktu tempuh yang lama itu, sebab dia memiliki waktu hingga dua minggu untuk mudik.

“Lagipula banyak juga yang pindah (mudik) menggunakan jalur darat jadi penyedia bus sudah meningkatkan kualitas pelayanannya,” kata Razi.

Pemudik lainnya, Yusrin Zata Lini, 25, juga batal membeli tiket pesawat untuk mudik lebaran ke Bojonegoro, Jawa Timur.

Perempuan yang akrab disapa Tata ini biasanya mudik menggunakan pesawat untuk menghemat waktu perjalanan, namun kali ini dia menggunakan kereta.

Tata mau tidak mau mengorbankan waktu liburnya yang hanya lima hari untuk perjalanan darat selama delapan jam.

Harga tiket kereta kelas eksekutif ke daerah Bojonegoro relatif murah Rp450 ribu, sedangkan harga tiket pesawat rute Jakarta-Surabaya paling rendah ialah Rp1,1 juta.

Menurut Tata, kebijakan pemerintah untuk menurunkan tarif batas atas pesawat udara tidak berpengaruh banyak pada harga tiket.

“Saya sudah rajin mengecek harga, dari bulan lalu sampai dua bulan ke depan harganya masih sama mahal,” ujar dia.

Tarif lebaran justru diklaim turun

Pemerintah memiliki argumen sendiri menghadapi keluhan konsumen pengguna pesawat terbang.

Kepala Badan Peneliti dan Pengembangan Kementerian Perhubungan Sugihardjo mengatakan tarif pesawat pada Lebaran 2019 ini justru relatif lebih murah dibanding Lebaran 2018 lalu.

Pasalnya, pemerintah telah menurunkan tarif batas atas (TBA) pesawat hingga 15 persen sehingga tarif pesawat pun seharusnya ikut turun.

“Saya ingin garis bawahi untuk periode lebaran, tarif pesawat bukannya naik tapi turun,” kata Sugihardjo di Jakarta pada Rabu.

Harga yang dilihat konsumen pada pencarian melalui online travel agent, menurut dia, menjadi jauh lebih mahal karena yang ditampilkan bukan penerbangan langsung melainkan penerbangan multi-rute.

Sebagai contoh, penerbangan Jakarta-Padang harus transit lebih dulu di Medan, Sumatra Utara.

“Masyarakat beli dari travel agent, karena penerbangan langsung sudah habis jadi dia membeli beberapa tiket,” kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Nur Isnin mengatakan sejauh ini belum ada penemuan maskapai penerbangan yang menjual tiket pesawat melebihi tarif batas atas (TBA).

Dia meminta masyarakat teliti terhadap tiket penerbangan yang dibeli.

“Pengawasan di lapangan tidak ada yang melebihi tarif batas atas, setelah kami cek ternyata multi-rute. Kami sudah koordinasi dengan travel agent jangan sampai penumpang enggak cek. Itu yang menyebabkan harga tiket mahalnya jadi berkali lipat,” jelas Isnin.

Pemerintah sejauh ini telah menerbitkan 357 izin penerbangan tambahan untuk rute domestik dan 47 penerbangan tambahan rute internasional.

Maskapai yang mengajukan izin penerbangan tambahan terbanyak ialah Lion Air, yakni sebanyak 143 penerbangan. Sedangkan Garuda Indonesia hanya mengajukan dua penerbangan tambahan.

Isnin mengatakan frekuensi penerbangan masih bisa ditingkatkan jika lonjakan penumpang masih tinggi.

Begitulah jawaban pemerintah. Yang jelas, bagi masyarakat, untuk mudik ke kampung halaman pada tahun ini harus bersiasat mencari tiket yang paling pas di kantong.


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.