Turki

Dua tentara Turki menjadi martir akibat serangan udara di Suriah

Sebagai balasan, pasukan Turki melumpuhkan lebih dari 50 elemen rezim dan menghancurkan lima tank, dua kendaraan lapis baja, dua pickup, dan satu howitzer, kata kementerian pertahanan di Twitter

Pizaro Gozali Idrus   | 20.02.2020
Dua tentara Turki menjadi martir akibat serangan udara di Suriah Ilustrasi: Kementerian Pertahanan Turki. (Foto file - Anadolu Agency)

Ankara

Dilara Hamit and Jeyhun Aliyev

ANKARA

Dua tentara Turki menjadi martir dan lima lainnya cedera dalam serangan udara terhadap elemen-elemen pasukan Turki di Idlib, Suriah, kata Kementerian Pertahanan Nasional Turki pada Kamis.

Sebagai balasan, pasukan Turki melumpuhkan lebih dari 50 elemen rezim dan menghancurkan lima tank, dua kendaraan lapis baja, dua pickup, dan satu howitzer, kata kementerian pertahanan di Twitter.

Mereka juga mengucapkan belasungkawa kepada keluarga para martir dan Angkatan Bersenjata Turki, yang pasukannya berada di wilayah perbatasan untuk menegakkan zona de-eskalasi dan melindungi penduduk sipil setempat.

Merespons tentara Turki yang menjadi martir oleh pasukan rezim Assad dalam beberapa pekan terakhir, Turki dengan cepat membalas dengan melumpuhkan ratusan tentara Suriah.

Melalui Twitter, Fahrettin Altun, direktur komunikasi pemerintah Turki, mengecam tindakan rezim yang membunuh tentara Turki di Idlib yang bertugas “untuk memastikan perdamaian dan melakukan kegiatan kemanusiaan."

Altun berharap rahmat Allah atas mereka yang meninggal dunia dan kesembuhan bagi pasukan terluka.

"Negara kita tidak akan membiarkan darah para martir. Siapa pun yang menjadikan Suriah penuh dengan darah, teror, dan air mata akan diminta pertanggungjawabannya," kata Altun.

 

Suriah telah berkubang dalam perang saudara mematikan sejak awal 2011 ketika rezim Bashar al-Assad melancarkan tindak kekerasan terhadap gelombang pro-demokrasi.

 

Sejak itu, ratusan ribu orang tewas dan lebih dari 10 juta lainnya mengungsi, menurut PBB.

 

Idlib, yang berada dekat perbatasan selatan Turki, ditetapkan sebagai zona de-eskalasi atas kesepakatan antara Turki dan Rusia pada akhir 2018.

 

Namun, rezim Suriah dan sekutu-sekutunya, secara konsisten melanggar ketentuan-ketentuan gencatan senjata dan meluncurkan serangan di wilayah di mana tindakan kekerasan secara tegas dilarang.

 

Zona de-eskalasi saat ini menjadi rumah bagi sekitar 4 juta warga sipil, termasuk ratusan ribu pengungsi dalam beberapa tahun terakhir yang melarikan diri dari kekejaman rezim Assad di seluruh wilayah Suriah.

 

Sekitar 1 juta pengungsi di Idlib juga telah bergerak menuju perbatasan Turki dalam beberapa bulan terakhir untuk melarikan diri akibat serangan rezim Assad dan sekutunya.

 

Turki menyerukan penghentian serangan terhadap Idlib dan meminta rezim Assad mematuhi kesepakatan gencatan senjata.

 

Turki juga memperingatkan elemen-elemen rezim Assad bahwa jika serangan tidak berhenti, Turki akan bertindak.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.