Pizaro Gozali Idrus
30 September 2020•Update: 30 September 2020
JAKARTA
Presiden Vietnam Nguyen Phu Trọng dan Presiden China Xi Jinping setuju melakukan pembicaraan lewat telepon meningkatkan kerja sama dan membahas perkembangan di wilayah laut, lansir Vietnam News pada Rabu.
Dalam percakapan pada Selasa itu, Trong mengusulkan agar kedua belah pihak bekerja sama mengatasi masalah mereka yang ada, terutama terkait masalah laut dengan semangat kesamaan persepsi.
Trong mengatakan persoalan laut itu harus dibicarakan wajib bersandar kepada aturan internasional.
“[Pembicaraan soal laut] sejalan dengan hukum internasional yang berkontribusi untuk menjaga lingkungan yang damai dan stabil untuk perkembangan masing-masing negara,” ujar Trong.
Dia juga menegaskan selama tujuh dekade terakhir, persahabatan dan kerja sama selalu menjadi bagian utama dalam hubungan antara Vietnam dan China dalam berbagai bidang.
Dia mencatat kedua negara telah mengadakan serangkaian kegiatan kerja sama sejak awal tahun ini yang berkontribusi pada pengembangan kemitraan kerja sama strategis kedua negara.
Sementara itu, China berjanji China akan terus mendukung peran Vietnam sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk tahun 2020-2021, dan Ketua ASEAN pada tahun 2020.
Xi menyatakan kesediaannya untuk bekerja dengan para pemimpin tingkat Vietnam untuk mengintensifkan pertukaran strategis dan mempromosikan kerja sama yang efektif untuk menjaga hubungan baik dengan negara tetangganya itu.
Konflik di Laut China Selatan
Agustus lalu, hubungan Vietnam dengan China kini kian memanas menyusul kehadiran pesawat pembom China di Kepulauan Paracel yang disengketakan di Laut China Selatan.
Vietnam merupakan negara yang menolak klaim Sembilan garis putus-putus China di Laut China Selatan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Vietnam Le Thi Thu Hang mengatakan aktivitas itu berupa latihan angkatan laut dan latihan menembak yang dilakukan 24-29 Agustus.
“Itu bertentangan dengan Deklarasi Perilaku Para Pihak di Laut China Selatan, memperumit situasi dan tidak kondusif bagi negosiasi yang tengah berlangsung antara China dan ASEAN,” ujar Hang.
Hang meminta China untuk membatalkan latihan dan menghormati kedaulatan Vietnam atas Pulau Paracel.
Hang menegaskan bahwa Pulau Spratly dan Truong Sa adalah “bagian tak terpisahkan dan Vietnam.”
Vietnam, imbuh Hang, memiliki landasan hukum dan bukti sejarah yang cukup terkait kedaulatan mereka di pulau-pulau itu.
Secara de facto, China merebut Paracel dari Vietnam lewat pertempuran pada 1974.