Muhammad Nazarudin Latief
09 November 2017•Update: 09 November 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia berhasil memasukkan agenda perdagangan dan investasi pro-pertumbuhan inklusif, pembangunan pedesaan, dan pengentasan kemiskinan pada program Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).
“Pertumbuhan inklusif, pembangunan pedesaan, dan pengentasan kemiskinan adalah kepentingan Indonesia di APEC,” ujar Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan (Kemendag) Iman Pambagyo, melalui pesan elektronik kepada Anadolu Agency, Kamis.
Imam baru saja mengikuti Pertemuan Terakhir Pejabat Senior (Concluding Senior Officials’ Meeting/CSOM) APEC pada 6-7 November 2017, di Da Nang, Vietnam.
Inti dari pertemuan tersebut, kata Imam, adalah memaksimalkan upaya-upaya untuk mencapai Bogor Goals yaitu agenda liberalisasi perdagangan investasi, fasilitasi bisnis, serta kerja sama ekonomi dan teknis yang harus dicapai pada 2020.
Sisa waktu tiga tahun dari target, kata Iman, akan diisi dengan menetapkan langkah-langkah yang belum terselesaikan. Antara lain isu tarif dan hambatan nontarif, jasa, dan investasi.
Delegasi Indonesia fokus berjuang meningkatkan akses perdagangan UMKM. Mereka harus piawai melakukan inovasi dan memperbaiki daya saing, terutama agar mudah beradaptasi dan mendapatkan manfaat maksimal dari era perdagangan digital.
Ini dilakukan karena pemerintah menyadari bahwa teknologi dan inovasi penting untuk mengembangkan daya saing UMKM. Karena itu negara-negara APEC harus menyediakan akses yang memadai bagi UMKM untuk mengakses infrastruktur digital, keamanan data serta kemudahan prosedur e-commerce lintas batas negara.
“Tren globalisasi saat ini memberikan manfaat positif bagi UMKM,” ujar dia.
Pertemuan tersebut diikuti delegasi 21 negara anggota. Mereka, kata Imam, bekerja keras agar semua agenda disepakati dan disahkan pada pertemuan tingkat menteri dan pemimpin APEC hari ini hingga Sabtu, 10 November nanti.