Hayati Nupus
15 Oktober 2019•Update: 15 Oktober 2019
JAKARTA
Jumlah tunawisma di Bangkok melonjak menjadi 4.392 orang tahun ini, atau 10 persen lebih tinggi dari tahun lalu.
Sekretaris Jenderal Yayasan Issarachon Atchara Sorawaree mengatakan ada tambahan 363 orang yang terpaksa hidup di jalanan.
“Jumlah itu tampak sepele, tapi hidup di jalanan berisiko, dan berarti upaya kami untuk memecahkan masalah gagal,” ujar Atchara, seperti dikutip Bangkok Post.
Yayasan Issarachon mengkritik kebijakan pemerintah dan keputusan Bangkok Metropolitan Administration (BMA) yang menempatkan tunawisma di penampungan.
“Itu tidak menyelesaikan masalah,” kata Atchara.
Begitu pula dengan kebijakan Balai Kota membersihkan pedagang kaki lima dan mengusir komunitas Bangkok Lama, lanjut Atchara, berarti memaksa orang miskin keluar dari pekerjaan serta menggiring mereka untuk menjadi tunawisma.
Atchara mendesak pemerintah untuk membuat strategi untuk mengurangi jumlah tunawisma.
Pemerintah, lanjut Atchara, perlu membagi para tunawisma dalam kelompok berbeda.
“Tak semua tunawisma menginginkan tempat berlindung. Beberapa memiliki masalah psikologis parah dan yang mereka butuhkan psikiater, bukan pekerja sosial. Beberapa lainnya mengalami masalah penghasilan, dan membutuhkan solusi keuangan agar dapat berdiri lagi,” ujar Atchara.
Atchara menuturkan umumnya orang berasumsi bahwa tunawisma pengangguran.
Padahal, imbuh Atchara, 40 persen dari mereka memiliki pekerjaan kasar sebagai pekerja bangunan, penjaga keamanan, atau buruh.
Umumnya mereka, tambah Atchara, bekerja tanpa kontrak atau upah tetap.
Wakil Presiden Yayasan Issarachon Wilaiphan Luangya menambahkan jika umumnya tunawisma beraktivitas mengumpulkan atau mendaur ulang sampah untuk dijual kembali.
Dari kegiatan itu, lanjut Wilaiphan, mereka memperoleh penghasilan 300-400 baht per hari.
Salah satu proyek yang digarap Yayasan Issarachon, ujar Wilaiphan, adalah menghimpun dana untuk menyediakan alat pengumpul sampah keliling yang akan digunakan para tunawisma.
“Proyek ini memandang tunawisma sebagai pekerjaan perkotaan. Mereka membantu kita menangani masalah sampah. Mereka memainkan peran utama dalam bisnis daur ulang, tanpa mereka pemerintah harus menyewa perusahaan swasta untuk tugas itu,” urai Wilaiphan.