Pizaro Gozali Idrus
16 Maret 2021•Update: 17 Maret 2021
JAKARTA
Pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim tidak menutup kemungkinan terjadinya koalisi Partai Keadilan Rakyat (PKR) dengan UMNO yang merupakan partai pendukung Perdana Menteri Muhyiddin Yassin.
Namun demikian, kata Anwar, koalisi antara dua partai seteru tersebut masih terlalu dini untuk diputuskan.
“Ada pembicaraan awal antara PKR dan Umno (dan) saya tidak menyangkal kemungkinan kerja sama. Hal ini saya sampaikan kepada anggota parlemen dan pimpinan negara untuk disampaikan ke akar rumput,” ujar Anwar dalam konferensi persnya di Petaling Jaya, Selasa sore.
Anwar menegaskan semua pihak untuk tidak menyimpulkan bahwa telah terjadi kesepakatan antara kedua partai.
“(Tapi) jangan anggap ada kesepahaman karena banyak komentator yang bilang sudah ada kesepakatan,” ujar dia.
Selain itu, Anwar Ibrahim juga mengklaim meskipun beberapa anggota parlemen PKR sekarang mendukung Aliansi Nasional (PN) pemerintahan Muhyiddin Yassin, mereka masih belum memiliki mayoritas di parlemen.
Anwar meyakini bahwa pemerintah PN belum menerima dukungan dari 110 anggota parlemen seperti yang katakana beberapa pihak.
Faktanya, anggota parlemen Port Dickson ini mengatakan jika PN berhasil menarik lima atau enam anggota parlemen oposisi, mereka tetap tidak mendapat dukungan mayoritas.
“Saya mau jelaskan di sini, dengan menarik lima sampai enam orang ke PN, dia (pemerintah) belum mendapat mayoritas dari 110 anggota parlemen,” ujar Anwar.
September lalu, Presiden UMNO Ahmad Zahid Hamidi mengatakan banyak anggota parlemen UMNO dan koalisi Barisan Nasional (BN) di Malaysia yang mendukung Anwar Ibrahim.
Pernyataan itu muncul menyusul pengumuman Anwar yang mengaku mengantongi dukungan mayoritas untuk menggulingkan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin.
Diperlukan minimal 112 kursi anggota parlemen untuk membentuk pemerintahan di Malaysia.
Koalisi berkuasa Perikatan Nasional pimpinan Muhyiddin Yassin memiliki mayoritas sangat tipis 113 kursi.