Nicky Aulia Widadio
22 Oktober 2019•Update: 23 Oktober 2019
JAKARTA
Presiden Joko Widodo menunjuk tujuh orang untuk membantu penyusunan Kabinet Kerja Jilid 2 di masa pemerintahannya yang kedua bersama Wakil Presiden Ma’ruf Amin.
Ketujuh orang tersebut yakni Pratikno, Pramono Anung, Moeldoko, Retno Marsudi, Soekardi Rinakit, Ari Dwipayana dan Alexander lay.
“Dalam (penyusunan) kabinet itu presiden menunjuk beberapa orang membantu tugasnya sehari-hari," kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Bey Machmudin di Jakarta, Selasa.
Jokowi, sapaan akrab presiden, rencananya akan mengumumkan kabinet pada Rabu pada pukul 08.00 WIB dan melantik para menteri pada pukul 10.00 WIB.
Jokowi telah memanggil sejumlah figur calon menteri ke Istana Merdeka. Di antara figur tersebut ada incumbent seperti Sri Mulyani, Basuki Hadimuljono, Siti Nurbaya, Yasonna Laoly, Tjahjo Kumolo, Moeldoko, Sofyan Djalil, serta Bambang Brodjonegoro.
Ada juga figur partai politik seperti Johnny G Plate dari Nasdem, Juliari P Batubara dari PDIP, Suharso Monoarfa dari PPP, serta Abdul Halim Iskandar dari PPP.
Jokowi juga menunjuk Fadjroel Rachman sebagai Staf Khusus Bidang Komunikasi Keperesidenan.
Fadjroel sebelumnya pernah menerima penugasan khusus dari Jokowi sebagai Komisaris Utama di PT Adhi Karya pada 2015 lalu.
Fadjroel, dalam keterangan pertamanya sebagi juru bicara, mengatakan tugas tujuh orang tim tersebut ialah memberi masukan, pertimbangan, serta memverifikasi calon-calon menteri yang akan duduk di kabinet.
“Pada intinya mereka selalu berdiri pada prinsip kehati-hatian agar kabinetnya tidak memiliki beban,” tutur Fadjroel.
Dia juga menyatakan presiden ingin agar menteri-menterinya “bebas dari masalah” agar tidak mengganggu kinerja.
Hal ini dia sampaikan menanggapi kedatangan Bupati Minahasa Selatan sekaligus politikus Golkar, Christiany Eugenia Paruntu ke Istana Merdeka memakai kemeja putih pada Senin.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merespons kedatangan Tetty, sapaan akrab Christiany, dan mengatakan dia pernah menjadi saksi kasus korupsi yang menjerat terdakwa Bowo Sidik Pangarso.
Istana kemudian mengklarifikasi bahwa Tetty bukan lah calon menteri.
“Presiden menginginkan siapa pun calon menteri yang terlibat dalam kabinet kedua ini, mudah-mudahan bersih dari masalah-masalah sehingga tidak menggangu pekerjaan,” jelas Fadjroel.