Nasional

Pemerintah minta pesantren perketat protokol kesehatan

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi meminta pesantren perketat protokol kesehatan usai santri libur Lebaran

Adelline Tri Putri Marcelline   | 07.06.2021
Pemerintah minta pesantren perketat protokol kesehatan Para santri mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka di Pondok Pesantren Tujieh Al Islamy di Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia pada tanggal 23 Maret 2021. ( El Darmawan - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

JAKARTA

Pemerintah meminta pesantren memperketat penerapan protokol kesehatan untuk menyambut kedatangan para santri usai libur Lebaran.

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi mengatakan hal ini penting karena kondisi setelah liburan, biasanya terjadi peningkatan potensi penyebaran Covid-19.

"Sebagai langkah antisipasi, pesantren diharapkan memperketat protokol kesehatan berkenaan dengan kedatangan para santri dari berbagai daerah,” kata Zainut dalam keterangan tertulis, Senin.

Dia berharap pesantren yang berada di daerah zona merah juga lebih waspada.

Bahkan kalau perlu, lanjut dia, menunda rencana pembukaan kegiatan belajar sebagai langkah antisipasi.

“Untuk pesantren yang berada di daerah dengan zona merah, saya harap lebih waspada. Bila perlu menunda rencana pembukaan kegiatan belajar,” jelas dia.

Dia menjelaskan desakan pesantren perketat protokol kesehatan ini berdasarkan pandemi Covid-19 di Indonesia masih belum mengalami penurunan signifikan.

Dia menambahkan, kasus harian di Indonesia dari tanggal 26 hingga 31 Mei, rata-rata masih di atas 5.000.

Ada sedikit penurunan pada 1 Juni 2021, tapi masih di angka 4.824, lanjut dia.

“Kita tentu tidak berharap muncul kembali klaster di pondok pesantren. Hal ini harus diantisipasi sejak awal,” tutur Zainut.​​​​​​​

Dia juga meminta jajaran Kementerian Agama di daerah untuk proaktif melakukan pembinaan dalam penerapan protokol kesehatan di pesantren.“


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın