Nıcky Aulıa Wıdadıo
03 Januari 2020•Update: 03 Januari 2020
JAKARTA
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan melakukan operasi modifikasi cuaca di Jabodetabek mulai hari ini.
Kepala BPPT Trihandoko Seto mengatakan teknik modifikasi cuaca (TMC) ini dilakukan untuk mengurangi curah hujan ekstrem yang memicu banjir di Jabodetabek.
Pasalnya, Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan deras dan cuaca ekstrem masih akan berlangsung di Jabodetabek hingga 10 Januari 2020.
Melalui TMC, awan yang bergerak ke Jabodetabek dan diperkirakan akan hujan di Jabodetabek akan disemai menggunakan NaCl.
“Diharapkan, awan akan jatuh sebelum memasuki Jabodetabek,” kata Seto melalui keterangan tertulis, Jumat.
BPPT, lanjut dia, telah menganalisis pertumbuhan awan penyebab hujan di Jabodetabek.
Awan tersebut berasal dari sebelah barat dan barat laut Jabodetabek, yaitu selat Sunda, Lampung dan sekitarnya.
BPPT menggunakan satu unit pesawat Casa, satu unit CN-295 dan satu unit Hercules untuk operasi ini.
Banjir melanda Jabodetabek sejak 1 Januari 2019, setelah hujan deras dengan durasi panjang.
BNPB sebelumnya mengatakan ada setidaknya 169 titik banjir yang terpantau hingga Rabu malam dengan rincian 63 titik di Jakarta, 97 titik di Jawa Barat dan 9 titik di Banten.
Banjir juga telah mengakibatkan lebih dari puluhan ribu orang warga Jakarta mengungsi.