JAKARTA
Indonesia mencatat jumlah kasus Covid-19 tertinggi di ASEAN, dengan total 41.431 kasus, melampaui Singapura yang saat ini sebanyak 41.216 kasus.
Juru bicara pemerintah Indonesia untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan total 2.276 pasien meninggal dan 16.243 orang telah sembuh.
“Ada penambahan kasus positif sebanyak 1.031 orang dalam 24 jam terakhir,” kata Yurianto dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Selain itu, jumlah kasus kematian akibat Covid-19 di Indonesia bertambah 45 orang dalam 24 jam terakhir, dan pasien sembuh bertambah 540 orang.
Jumlah kasus aktif Covid-19 di Indonesia juga tertinggi di ASEAN yakni 22.912 kasus, sementara Singapura mencatat 9.780 kasus aktif pada Rabu.
Indonesia, sebagai negara dengan jumlah populasi 269,6 juta jiwa —terbesar di ASEAN— sepekan belakangan mencatat kenaikan rata-rata 1.000 kasus baru per hari.
Sementara Singapura mencatat kenaikan kurang dari 500 kasus per hari selama 10 hari terakhir.
Singapura telah melewati puncak kurvanya pada pertengahan April hingga Mei lalu akibat kasus yang ditemukan di asrama pekerja migran.
Epidemiolog dari Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani mengatakan kenaikan kasus di Indonesia terjadi karena jumlah sampel spesimen yang dites meningkat hingga 19 ribu per hari dalam 10 hari terakhir.
Sebelumnya, lanjut dia, Indonesia hanya mengetes maksimal 10 ribu sampel spesimen per hari sehingga jumlah kasus yang dikonfirmasi tidak memberi gambaran utuh dari situasi penularan.
Dia mengingatkan agar pemerintah terus meningkatkan kapasitas tes Covid-19 agar orang-orang yang terinfeksi lebih cepat terlacak.
Sejauh ini Indonesia masih memiliki antrean pasien dalam pengawasan (suspect) untuk dites sebanyak 13.279 orang akibat adanya antrean pemeriksaan sampel di laboratorium.
“Selama ini kasus kita tidak begitu tinggi karena kurang banyak tes. Padahal menurut saya Indonesia belum sampai ke puncak kurva, jumlah kasus masih bisa naik lagi” kata Laura kepada Anadolu Agency, Rabu.
Di saat kasus terus merangkak naik, beberapa daerah yang masuk kategori zona merah seperti DKI Jakarta dan Jawa Timur justru melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Laura menilai pemerintah lebih mempertimbangkan dampak ekonomi yang ditimbulkan mengingat banyak masyarakat Indonesia bergantung pada sektor informal.
Sementara itu, bukti epidemiologis belum menunjukkan bahwa situasi belum cukup aman untuk pelonggaran sehingga jumlah kasus masih berpotensi meningkat.
Dia menuturkan situasi ini juga dapat berdampak pada posisi Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
Pasalnya, sejumlah negara tetangga telah melewati fase puncak penularan kasus.
Thailand misalnya, telah melaporkan 0 kasus infeksi lokal selama 23 hari berturut-turut.
Pemerintah Thailand telah menyetujui tiga paket stimulus senilai 22,4 miliar bath (USD720 juta) atau sekitar Rp10,1 triliun untuk menghidupkan kembali pariwisata domestik yang terpuruk akibat Covid-19.
Sementara Malaysia mencatat kenaikan kasus tidak lebih dari 100 per hari sejak movement control order (MCO) dilonggarkan.
“Jika Indonesia masih mencatat kasus tinggi, bisa jadi negara tetangga menolak kedatangan WNI."
"Mereka juga tidak mau masuk ke Indonesia untuk sementara waktu karena dianggap episenter,” kata Laura.
“Ini bisa jadi Indonesia seperti di-lockdown di kawasan. Jadi pemerintah harus betul-betul mengupayakan penanganan maksimal,” lanjut dia.
news_share_descriptionsubscription_contact
