Muhammad Nazarudın Latıef
15 Februari 2020•Update: 16 Februari 2020
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) memulai Sensus Penduduk 2020 (SP2020), sebuah program untuk mendata seluruh penduduk Indonesia, pada hari ini, Sabtu.
Tahun ini, BPS menggunakan metode kombinasi yang menggunakan data administrasi kependudukan dari Ditjen Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) sebagai basis data dasar.
Data administrasi Dukcapil tersebut menjadi dasar untuk menghasilkan satu data kependudukan.
“Pada Sensus Penduduk 2020 petugas tidak dengan data kosong, tapi sudah memiliki basis data administrasi, sehingga nanti ketika wawancara sifatnya hanya konfirmasi,” ujar Kepala BPS Suhariyanto, dalam siaran pers, Sabtu.
Dalam UU No 16/1997, sensus adalah pendataan penduduk Indonesia yang mencakup jumlah penduduk, etnis, agama, pekerjaan, perekonomian, dan lain-lain.
Sensus digelar 10 tahun sekali dan dilaksanakan pada tahun berakhiran nol, tahun ini merupakan sensus ke-7 sejak kali digelar pada 1961. Sebelumnya, sensus penduduk pernah dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 2020 dan 2030.
Sensus akan dilakukan secara online pada 15 Februari-31 Maret 2020. Bagi penduduk yang belum melakukan pendataan online akan didatangi petugas untuk wawancara dengan pada Juli 2020.
Dalam situs resmi BPS, disebutkan masyarakat diminta berpartisipasi dengan melakukan cek keberadaan NIK KTP dan Nomor Kartu Keluarga (KK) apakah sudah terdaftar melalui https://sensus.bps.go.id/cek.
Berdasarkan publikasi BPS pada Agustus 2010, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237.556.363 orang, terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan.
Presiden Joko Widodo dalam video sosialisasi sensus mengatakan data yang dihasilkan program ini sangat penting.
Menurut dia, informasi sensus akan menentukan kebijakan pembangunan, daerah mana yang membutuhkan fasilitas kesehatan, pendidikan serta transportasi.