BANDA ACEH
Maisarah, 46, sesekali melepas kacamatanya untuk menyeka air mata yang menggenangi di wajahnya.
Pengalaman kehilangan suami dan ketiga putrinya masih menyisakan lubang trauma yang menganga dalam dirinya.
Saat itu, 26 Desember 2004, gelombang tsunami setinggi 9 meter menyapu wilayah Aceh hingga menewaskan lebih dari 200.000 orang.
“Meski 15 tahun berlalu, rasa trauma itu masih belum bisa hilang,” kata ibu rumah tangga ini kepada Anadolu Agency di Aceh Besar.
Jelang gempa, Maisara bersama suami dan ketiga putrinya masih berada di rumah.
Tak berapa lama, putri sulungnya yang berusia 12 tahun pamit untuk pergi mengaji di luar rumah.
Namun sang putri tak lama kembali karena guncangan gempa berkuatan 9,3 SR membuatnya surut melanjutkan langkah.
Tiba-tiba semua orang saling teriak panik membuat warga berhamburan keluar rumah berusaha menyelamatkan diri.
Maisara spontan keluar rumah bersama Muharram M.Nur, suaminya, untuk menghindari bangunan runtuh.
Muharram, wartawan Serambi dan juga pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Aceh, sempat kembali ke rumah karena si bungsu masih berada di dalam kamar.
Namun tak lama berselang, Muharram pamit untuk memenuhi panggilan tugas meliput penjara yang roboh akibat tsunami.
Maisara tidak memiliki firasat apa-apa saat kejadian itu. Dia hanya berpikir Muharram pergi dan akan kembali usai melakukan liputan.
“Maklum, jangankan tsunami, gelombang pasang pun saya tak pernah melihat saat di Aceh,” kata dia.
Namun sapa nyana, itulah terakhir kali Maisara melihat wajah suaminya.
Sejak gelombang tsunami, Muharram menghilang. Wartawan yang dikenal spesialis isu konflik itu tak diketahui nasibnya hingga kini.
Tak lama usai Muharram pergi, peristiwa mengerikan itu benar-benar terjadi. Tetangganya berteriak bahwa kiamat telah tiba. Sejurus kemudian gelombang tsunami datang.
“Kejadiannya berlangsung cepat. Dalam hitungan detik,” jelas Maisara.
Maisara terlempar sejauh 50 meter ke tepian sawah akibat terjangan air buih yang memasuki wilayah Aceh Besar, tempat dia tinggal, dekat kawasan Ulee Lhueue.
Putri bungsu yang sejak itu selalu bersamanya, sontak lepas dari pelukan.
“Saya berusaha menggapainya, tapi kedua matanya sudah tertutup. Mulutnya sudah putih,” kenang Maisara, dengan mata berkaca-kaca.
Sedangkan kedua putri tertuanya, yang terlebih dahulu kabur, tak diketahui rimbanya.
Ingatan Maisara hanya bersisa raungan putrinya yang meminta dirinya cepat lari.
“Air ma… air…” tukas Maisara menirukan suara putrinya.
Maisara tetap tak bisa menyusul langkah kedua putrinya karena harus menggendong si bungsu. Setelah kejadian itu, kedua putrinya juga hilang.
Maisara masih bisa selamat akibat tersangkut di pohon palem. Dia berhasil menggapai batang pohon itu meski tangannya harus tertancap duri.
“Tangan saya penuh dengan darah,” kenang dia.
Setelah terombang-ambing tsunami, Maisara akhirnya terdampar di sebuah bangunan yang tak jauh dari rumahnya.
Dalam kondisi lemas, tubuhnya penuh dengan luka. Kakinya robek akibat sayatan seng. Badannya tak bisa bergerak karena terimpit kayu dan kulkas.
“Saat itu, saya sudah terpikir akan mati,” kenang Maisara.
“Tidak ada lagi air mata untuk menangis. Saya sudah pasrah,” ucap Maisara.
Namun setitik keajaiban muncul saat para tentara datang mencari mayat dan korban selamat.
Dengan tenaga seadanya, Maisara membuka mulutnya untuk meraung meminta pertolongan.
Suara Maisara berhasil ditangkap tentara. Mereka langsung membuka jalan untuk menggapai tubuh wanita itu.
Operasi penyelamatan Maisara benar-benar tidak mudah karena aparat harus berjibaku dengan tumpukan kayu dan bau mayat.
Total tentara butuh dua jam untuk benar-benar menemukan Maisara.
“Saya bersyukur masih bisa hidup,” kata dia.
Tentara membawa Maisara ke sebuah masjid untuk mendapatkan perawatan.
Usai mendapatkan perawatan, Maisara memilih kembali ke kompleks rumahnya untuk mengungsi.
Saat itu, Maisara hanya sanggup melihat rumahnya yang sudah rata dengan tanah.
“Semua sudah habis tak tersisa. Hanya cincin kawin yang melekat,” ucap Maisara.
Dia lalu hidup bersama tetangga dan teman-temannya di kompleks perumahannya yang saat itu disulap menjadi tempat pengungsian.
“Saya bertekad tinggal di sana karena kami bisa saling mendukung satu sama lain,” terang dia.
Bangkit karena saling support
Menurut Maisara, ada perasaan senasib sepenanggungan yang membuat dia betah hidup di tenda pengungsian.
Meski kehidupan mereka berubah total, ikatan kekeluargaan
terjalin kuat antara sesama pengungsi, yang tak lain adalah para tetangganya dulu.
“Kita tertawa sama-sama, menangis sama-sama. Di situ saya mulai bangkit,” terang dia.
Kini sehari-hari Maisara bekerja di Muharram Journalism College, sekolah jurnalis yang didirikan AJI Aceh untuk menghormati perjuangan suaminya.
Menyisakan banyak fobia
Namun demikian, 15 tahun setelah kejadian itu berlalu, rasa traumatis itu belum pudar.
Maisara mengaku bencana tsunami itu menyisakan rentetan fobia.
Dia tiba-tiba menjadi alergi pada ketinggian. Kepalanya juga pusing jika berada di tempat keramaian.
“Kalau acara di hotel, saya mau dekat tangga,” kata dia. “Biar kalau ada tsunami saya bisa segera naik ke atas.”
Tidak hanya itu, Maisara kini terpaksa membobol kamarnya agar memiliki pintu alternatif. Jadi dalam satu kamar ada dua pintu, yakni pintu masuk dan pintu keluar.
“Saya buat pintu keluar agar bisa cepat kabur,” jelas dia.
Jempol jarinya juga masih merasa ngilu akibat tancapan duri merobek telapak tangannya.
“Kalau untuk finger print suka susah,” terang dia.
Maisara enggan pergi ke tempat lain karena tak mau meninggalkan semua kenangan yang telah menjadi bagian hidupnya.
“Ini rumah saya. Saya tak ingin meninggalkannya,” kata dia.
15 tahun pencarian
Apa yang dialami Maisara serupa dengan Abdul Hadi Firsawan.
Pria Aceh berusia 24 tahun ini juga harus kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Hadi, sapaan akrabnya, yang saat itu duduk di kelas 4 SD, harus terpisah dengan kedua orang tua dan dua adiknya.
Kejadiannya berlangsung begitu cepat. Saat itu, dia sedang menonton TV, sedangkan ibunya sedang berada di dapur.
Ketika gelombang tsunami datang, orang-orang berteriak “Air laut naik.. Air laut naik..”
“Saya spontan lari,” terang pria yang kini mengenyam pendidikan di jurusan Perbankan Syariah di UIN Ar-Raniry ini.
Amukan tsunami membuatnya terhanyut dalam air dari pagi sampai siang. Hadi berhasil selamat setelah tersangkut di atas pohon.
“Saya berhasil ditemukan pemuda kampung,” jelas dia.
Hadi mengajak Anadolu Agency menengok kondisi rumahnya di Kajhu, Aceh Besar usai tsunami.
Kondisinya telah hancur dan penuh dengan sampah. Bangunannya nyaris tak bersisa.
Hanya kerangka tiang yang masih tegak berdiri dari rumah berlantai dua itu.
Tak ada lagi TV, lemari, kursi yang dulu menghiasi empat tinggalnya. Semuanya berganti dengan tumbuhan liar dan semak belukar.
Sejak kejadian itu, Hadi tinggal bersama keluarga tantenya yang selamat dari amukan tsunami.
Tak mudah untuk melupakan kenangan buruk akibat tsunami dari benaknya.
Dia mengaku butuh waktu berbulan-bulan untuk melupakan kenangan pahit itu.
“Saya berhasil keluar dari trauma berkat dukungan dari saudara-saudara,” tukas Hadi.
Namun meski 15 tahun berlalu, Hadi masih terus berupaya mencari keberadaan keluarganya, meski hanya tinggal jasad.
Harapan itu sempat muncul saat 45 jasad korban tsunami ditemukan di wilayahnya pada Desember 2018.
Penemuan ini bermula saat pekerja perumahan di Dusun Lamseunong, Gampong Kajhu, Kabupaten Aceh Besar, menemukan puluhan kantong hitam berisikan tulang belulang manusia.
Beberapa jenazah dapat teridentifikasi, sedangkan jenazah lainnya akan segera dimakamkan.
Dari 45 jasad yang ditemukan, hanya lima yang bisa diidentifikasi karena terdapat Kartu Tanda Penduduk (KTP) di dalam kantong jenazah. Sisanya tak dapat diidentifikasi.
Namun dari kelima jasad itu, tak ada satu pun keluarga Hadi yang berhasil ditemukan.
“Kami sudah berusaha mencari, tapi belum dapat,” kata dia.
Doa dan harap terus mengiringi perjalanan Hadi untuk lepas dari bayangan masa lalu. Dia kini telah tenggelam dengan aktivitasnya sebagai mahasiswa dan kontributor sebuah media nasional.
“Saya mengangkat soal ekonomi, investasi, dan pariwisata Aceh,” terang Hadi.
Kini, Hadi mengaku sudah merelakan semuanya, termasuk bagi ayah, ibu, dan kedua adiknya jika telah tenang di alam baka.
“Saya sudah ikhlas. Ikhlas atas semuanya,” kata dia.
news_share_descriptionsubscription_contact
