Hayati Nupus dan Erric Permana
JAKARTA
Lalu Muhammad Zohri tak kuasa menahan air mata saat memperoleh sambutan luar biasa setibanya di tanah air, Selasa malam lalu.
Juara dunia lomba lari nomor 100 meter putra U-20 di Tempere, Finlandia, ini tak hanya memperoleh kalungan bunga langsung dari Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, saat dia tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, tapi putra asal Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, yang lahir dari keluarga sangat sederhana ini, juga mendapat bonus pembinaan Rp250 juta dari pemerintah dan tabungan emas 1 kilogram dari PT Pegadaian.
“Saya tidak pernah menyangka akan mendapat sambutan seperti ini,” ungkap Zohri, kepada jurnalis.
Apalagi, Presiden RI Joko Widodo juga akan menghadiahkannya rumah, menggantikan rumah sempit berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah warisan kedua orang tuanya.
Zohri terharu. Putra bungsu pasangan Saeriah dan Lalu Ahmad ini menghargai niat baik presiden, meski juga masih tetap menginginkan rumah sempit yang membesarkannya.
“Saya masih banyak kenangan dengan rumah itu, terutama ketika mengenang ibu dan bapak saya,” ujar Zohri sambil meneteskan air mata.
Saat mengikuti gelaran atletik tingkat dunia itu, Zohri yang baru berusia 18 tahun sebetulnya tak pernah menyangka akan meraih medali emas. Dari Indonesia, dia terbang ke Finlandia hanya untuk mengikuti turnamen olahraga seperti yang selama ini dilakoninya. Namun toh bunga keberuntungan berpihak padanya.
“Awalnya saya tidak pernah menyangka, namun saya percaya diri dan yakin pertolongan Tuhan, saya bersyukur kepada Allah bisa menjadi juara,” kenang Zohri.
Zohri menjadi piatu sejak masih menempuh bangku Sekolah Dasar. Setahun lalu, ayahnya menyusul ibunya pergi kembali ke Yang Kuasa. Saat ini Zohri hanya tinggal bersama ketiga saudaranya; Baiq Fazilah, Lalu Ma’arif dan Baiq Fujianti di rumah sederhana di Lombok.
Di bidang olahraga, prestasi Zohri memang melesat cepat, secepat larinya. Peraih tujuh medali emas di berbagai Kejuaraan Nasional pada 2017 ini sebetulnya baru bergabung dengan PB PASI sebagai salah satu pelari untuk nomor estafet awal 2018 lalu. Selepas itu, sederet prestasi disabetnya.
Februari lalu, dia berhasil menempuh waktu 10,32 detik saat mengikuti uji tanding Asian Games 2018 untuk nomor 100 meter. Dua bulan berikutnya, Zohri meraih medali perak saat uji tanding ke Amerika Serikat untuk nomor 100 meter dengan catatan waktu 10,33 detik.
Juni lalu, dia malah memperoleh emas untuk nomor 100 meter dalam Kejuaraan Asia Atletik Yunior di Gifu, Jepang, dengan catatan waktu 10,27 detik.
Puncaknya adalah pekan lalu, saat dia meraih medali emas nomor 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik Junior. Ia menyingkirkan pelari Amerika Serikat Anthony Schwartz dan Eric Harrison, langganan juara yang mencatatkan waktu sama-sama di 10,22 detik.
Asosiasi Internasional Federasi Atletik (IAAF) mencatat, prestasi Zuhri ini menjadi sejarah baru Indonesia yang sejak 32 tahun lalu hanya mampu mencapai peringkat 8 pada babak penyisihan.
“Saya bangga bisa membuat sejarah di sini. Ini sangat luar biasa bagi saya, saya bersyukur kepada Allah,” lagi-lagi Zohri meneteskan air mata.
Menteri Imam mengapresiasi perjuangan Zohri hingga mengibarkan bendera merah putih dalam ajang lari tingkat dunia itu.
“Dia adalah pahlawan bagi bangsa ini,” kata dia, sebelum mengantarkan Zohri dari bandara menuju Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta, dengan mobilnya.
Selepas euforia kemenangan ini, Zohri akan berfokus menghadapi Asian Games 2018 yang digelar Agustus mendatang di Jakarta dan Palembang. Meski tergolong masih junior, dalam gelaran itu ia akan masuk ke kelas senior di nomor estafet 4x100 meter putra.
news_share_descriptionsubscription_contact

