Maria Elisa Hospita
19 April 2018•Update: 20 April 2018
Mumin Altas
ANKARA
Perdana Menteri Turki Binali Yildirim pada Rabu mengatakan, keputusan untuk mempercepat pemilihan presiden dan anggota parlemen dilakukan setelah mempertimbangkan masalah geopolitik dan keamanan negara.
Dalam konferensi pers di Ankara, Yildirim menjelaskan bahwa dengan menggelar pemilihan umum lebih awal, maka akan membuat situasi saat ini sejalan dengan konstitusi Turki yang baru.
Yildirim menambahkan, warga Turki telah mengharapkan perubahan konstitusional yang dibuat dalam referendum 2017 untuk segera diberlakukan.
"Sistem parlementer telah diubah sesuai dengan pemungutan suara pada 16 April 2017. Setelah adaptasi perubahan konstitusi, beberapa bab telah diberlakukan dan sejumlah bab lainnya diperkirakan akan mulai berlaku saat pemilihan pertama [setelah referendum]," jelas dia.
"Rakyat berharap bahwa perubahan ini akan berlaku sesegera mungkin dan situasi saat ini menjadi kompatibel dengan konstitusi," tambah Yildirim.
Kemarin, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengumumkan rencana untuk memajukan pemilihan presiden dan parlemen lebih awal dari jadwal semula.
Menurut presiden, pemilu harus segera dilaksanakan karena krisis Suriah semakin memburuk. "Karena itulah kami memutuskan untuk mengadakan pemilihan umum pada Minggu, 24 Juni 2018," ujar Erdogan.
Pengumuman itu muncul setelah pemimpin Partai Gerakan Nasionalis (MHP) Devlet Bahceli - yang akan mengikuti pemilu dengan beraliansi dengan Partai AK - menyerukan percepatan pemilu.