Ilkay Guder
11 Desember 2017•Update: 11 Desember 2017
Ilkay Guder
ANKARA
Juru bicara kepresidenan Turki mengecam pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang bereaksi keras menolak langkah AS terkait Yerusalem.
Dalam statemen yang dirilis Minggu, Ibrahim Kalin menghimbau agar Israel mengakhiri "penjajahan" mereka di kawasan Palestina dan berhenti menyerang Turki dan pemimpinnya.
"Mereka hanya membuang-buang waktu bila mengira Yerusalem yang menjadi kiblat kami, akan menjadi ibu kota negara penjajah hanya karena mereka mendeklarasikan itu," kata Kalin.
"Pejabat Israel seharusnya menghentikan penjajahan kawasan Palestina dan bukan menyerang negara dan pemimpin kami."
Kalin mengatakan, Israel yang selama ini tidak menghiraukan hukum internasional dan terus menjajah kawasan Palestina selama ratusan tahun, harus menjelaskan diri mereka.
"Kami tidak bisa menganggap serius tuduhan dan klaim mereka karena dilakukan oleh kaum yang membunuh ribuan warga Palestina yang tidak bersalah," lanjut Kalin. "Seperti negara-negara lain, Republik Turki akan terus mendukung hak, hukum, dan warga Palestina yang tertindas."
Pada Rabu, Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, sebuah keputusan yang membalikkan kebijakan AS selama berpuluh tahun untuk bersikap netral soal kota suci tersebut.
Keputusan ini menimbulkan demonstrasi besar di wilayah Palestina dan negara-negara Muslim lainnya.
Yerusalem masih berada di pusat konflik Israel-Palestina, dengan Palestina yang berharap Yerusalem Timur -- kini diduduki oleh Israel -- kelak menjadi ibu kota negara Palestina.