Kemal Karadağ
05 Desember 2017•Update: 06 Desember 2017
Kemal Karadağ
ANKARA
Juru bicara Kepresidenan Turki Ibrahim Kalin menyerukan pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk tidak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Selasa.
"Berita bahwa pemerintahan AS akan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sangat mengkhawatirkan,” tulis Kalin dalam akun Twitter-nya.
Kalin mengatakan bahwa hal ini sepenuhnya bertentangan dengan status agama dan sejarah Yerusalem, berdasarkan kesepakatan internasional serta keputusan PBB.
"Langkah seperti itu akan menghentikan proses perdamaian di Timur Tengah, yang sudah dalam keadaan rapuh, serta menimbulkan ketegangan dan konflik baru di Timur Tengah. Kami berharap pemerintah AS tidak akan membuat kesalahan fatal seperti itu. Melindungi status Yerusalem dan Harem-i Serif [Masjid Al-Aqsa] sangat penting," kata dia.
Kalin memberikan pernyataan tersebut setelah media AS mengabarkan bahwa Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk memindahkan kedutaan besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem dalam waktu dekat dan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Yerusalem masih menjadi inti konflik Israel-Palestina karena warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur yang saat ini diduduki Israel menjadi ibu kota negara masa depan.
Trump berjanji untuk memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem saat pemilihannya.