Hayati Nupus
04 Januari 2018•Update: 05 Januari 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) menurunkan radius berbahaya Gunung Agung, Bali, dari 10 kilometer menjadi 6 kilometer dari puncak.
“Itu area Awas yang tidak dianjurkan untuk dihuni masyarakat,” tegas Menteri ESDM Ignasius Jonan pada Kamis siang di Jakarta.
Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar mengatakan saat ini tekanan dan aliran magma dari perut Gunung Agung memang masih terjadi, namun belum belum menunjukkan tren kenaikan gempa yang signifikan.
“Tren data deformasi stagnan dibanding awal,” ujar Rudy.
Jadi jika terjadi hujan lahar berupa lontaran batu pasir dan hujan abu, kata Rudy, hanya akan melanda sampai radius 6 kilometer.
Meski begitu, kata Rudy, berdasarkan analisis visual maupun instrumental, hingga saat ini Gunung Agung masih berstatus Awas, dalam fase erupsi dengan aktivitas vulkanik relatif tinggi, dan fluktuatif.
Jika meletus nanti, kata Rudy, diperkirakan Gunung Agung akan memuntahkan sekitar 20 juta meter kubik atau sepertiga volume kawah.
Potensi awan panas berbahaya, ujar Rudy, relatif kecil. Pertumbuhan lava untuk memenuhi isi kawah melambat sementara pembangunan tekanan untuk mendobrak kubah lava juga tidak meningkat signifikan.
Pemerintah, ujar Rudy, sudah membuat beberapa skenario jika nanti Gunung Agung erupsi. Apalagi di wilayah 3-6 kilometer masih terdapat pemukiman.