21 September 2017•Update: 24 September 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Hingga Kamis sore, tercatat sebanyak 1.259 warga lereng Gunung Agung, Bali, mengungsi ke Kabupaten Buleleng, Klungkung dan Karangasem.
Eksodus ini terjadi seiring meningkatnya status Gunung Agung dari waspada menjadi siaga Senin malam lalu.
“Jumlah pengungsi terus bertambah mengingat belum semua data dilaporkan ke Pusdalops BPBD Bali,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.
Pusat Vulkanologi, Mitigasi Badan Geologi (PVMBG) merekomendasikan agar masyarakat tak beraktivitas di dalam radius 6 km dari kawah puncak, atau pada elevasi di atas 950 mdpl, berikut perluasan sektor ke arah utara, tenggara dan selatan-barat daya sejauh 7,5 km.
“Artinya di dalam wilayah tersebut harus kosong dan tidak ada aktivitas, berbahaya jika sewaktu-waktu gunung meletus,” katanya.
Sepanjang Kamis pukul 06.00-12.00 WIB, terjadi 144 kali gempa vulkanik dalam dan 10 gempa vulkanik dangkal.
“Ada proses pergerakan magma yang mendorong permukaan dan meruntuhkan batuan yang menyumbatnya di pada jarak 5 kilometer di bawah permukaan bumi,”ujarnya.
Di dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) 3, sesuai radius berbahaya tersebut, terdapat 49.485 jiwa berasal dari 6 desa di 3 kecamatan, Kabupaten Karangasem.
Karangasem dengan pengungsi terbanyak
Karangasem menjadi kabupaten dengan jumlah eksodus warga lereng Gunung Agung terbanyak. Ini kabupaten yang sama dengan lokasi Gunung Agung yang tengah berstatus waspada.
Dari total 1.259 pengungsi yang tercatat, 462 jiwa di antaranya mengungsi ke Kabupaten Buleleng, tersebar di Desa Sidemen, Desa Adat Sanggem dan Desa Sangkan.
Sedang lainnya mengungsi di Kabupaten Klungkung sebanyak 378 orang dan Buleleng sebanyak 419 orang.
Sebagian besar masyarakat, ujar Sutopo, mengungsi karena pengalaman masa lalu ketika Gunung Agung meletus tahun 1963.
Letusan tersebut berlangsung sejak 18 Februari 1963 hingga 27 Januari 1964 dan memakan 1.148 korban jiwa serta 296 terluka.
“Tanda-tanda yang mereka rasakan saat ini, yaitu gempa vulkanik yang sering terjadi saat ini mirip dengan kejadian sebelum Gunung Agung meletus tahun 1963,” ujar Sutopo.
Pengungsi gunung berapi berbeda dengan pengungsi lainnya, karena tak memiliki batas waktu.
“Tergantung dari waktu letusannya,” kata Sutopo.
BNPB masih mencari desa sekitar yang aman dan mampu menampung pengungsi untuk dijadikan sister village, seperti yang dikembangkan di Jawa Tengah dan Yogyakarta saat erupsi Gunung Merapi 2010 lalu.