Hayati Nupus
JAKARTA
Hari masih gelap gulita saat Maskapai Garuda Indonesia GA887 membawa Hu Chun dan Cai Tao dari Tiongkok menuju Indonesia pukul 04.10 waktu setempat.
Setelah menempuh perjalanan seperempat hari dari Bandara Cengdu, Tiongkok, kedua Giant Panda mendarat di Bandara Bandara Soekarno Hatta, Indonesia, Kamis pagi pukul 08.50 WIB.
Selama 10 tahun ke depan, keduanya akan tinggal di Indonesia, tepatnya di Taman Safari Indonesia (TSI), Bogor, Jawa Barat.
“Ini merupakan panda diplomasi, hadiah persahabatan dari Tiongkok untuk Indonesia,” ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya, saat menyambut kedatangan kedua panda.
Kedatangan panda ini merupakan tindak lanjut nota kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Tiongkok yang telah diteken pada 1 Agustus 2016 lalu di Guiyang, Tiongkok.
Ini sekaligus kerja sama pengembangan konservasi antara Taman Safari Indonesia dengan China Wildlife Coservation Associaton (CWCA).
Dalam Bahasa Tiongkok, Hu Chun berarti danau di musim semi yang cantik, sementara Cai Tao berarti pemuda tampan nan kharismatik.
“Jadi sepasang ini artinya si cantik dan si tampan,” kata Siti.
Si cantik dan si tampan ini telah resmi memiliki Kartu Ijin Tinggal Terbatas (KITAS) Indonesia dari Direktorat Jenderal Imigrasi. Hu Chun yang memiliki nomor KITAS 794, sementara Cai Tao yang memilliki nomor KITAS 778.
Masih remaja
Saat ini keduanya baru berusia tujuh tahun. Hu Chun panda betina kelahiran 8 September 2010 memiliki bobot 113 kg, sementara Cai Tao si panda jantan kelahiran 4 Agustus 2010 memiliki bobot 128 kg.
“Masih remaja, mereka lagi pacaran, semoga tahun depan bisa menikah dan punya anak,” harap Siti.
Musim kawin panda berada di bulan Februari-Mei, dengan musim melahirkan Juni-Oktober. Biasanya panda betina hamil selama 85-185 hari.
Panda memiliki masa subur dua hari saja. Jika masa itu datang, nafsu makan panda akan turun, warna dan besar vulva berubah, senang bermain air, dan lebih agresif pada si jantan.
“Jika berhasil sampai melahirkan, ini akan jadi prestasi dan kebanggaan lembaga konservasi kita,” kata Siti.
Jika telah melahirkan, anak panda akan kembali ke negara asalnya di usia 2-3 tahun.
“Kalau nanti kawin sedarah akan merusak genetika, makanya setelah lahir anaknya harus kembali ke negaranya,” kata Siti.
Persiapan tiga bulan
Bagi warga Tiongkok, kata Wakil Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Sun Weide, panda layaknya harta karun. Kedua panda ini merupakan persembahan tiga miliar rakyat Tiongkok untuk 260 juta rakyat Indonesia.
“Semoga membawa kebahagiaan bagi rakyat Indonesia, khususnya anak Indonesia,” katanya.
Di Tiongkok saat ini terdapat sekitar 1800 ekor panda. Mereka tinggal di ketinggian 2.000-3.000 mdpl. Umumnya usia panda di alam liar berkisar sampai 19 tahun, sementara jika di penangkaran bisa sampai 30 tahun. Meski begitu, panda tertua tercatat berusia 37 tahun.
Indonesia menjadi negara ke-4 di Asia Tenggara yang memperoleh peminjaman Giant Panda, setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Sementara di tingkat dunia, Indonesia merupakan negara ke-16. Negara lainnya yaitu Jepang, Korea Selatan, Australia, Jerman, Austria, Spanyol, Inggris, Belgia, Perancis, Belanda, Amerika Serikat dan Kanada.
Demi memastikan perjalanan Hu Chun dan Cai Tao dari Tiongkok ke Indonesia lancar, Garuda Indonesia telah mempersiapkan armadanya sejak tiga bulan lalu.
Bahkan Direktur Kargo Garuda Indonesia Sigit Muhartono sengaja berangkat ke Tiongkok lebih dulu demi menjemput kedua panda di Bandara Cengdu.
“Saya update setiap perkembangan ke Bu Menteri,” katanya, sumringah.
Penerbangan Garuda Indonesia Tiongkok-Indonesia yang biasanya memiliki rute Cengdu-Denpasar, sengaja dialihkan menjadi Cengdu-Jakarta-Denpasar demi mengantar panda.
“Malah lebih singkat, biasanya kalau transit di Denpasar dulu bisa sampai 13 jam, ini hanya 6 jam 50 menit saja, penumpang juga senang bisa terbang dengan panda,” ujar Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala Mansury.
Rumah panda
TSI telah menyiapkan tempat tinggal khusus untuk kedua panda, namanya Rumah Panda Indonesia dengan luas 4.800 meter persegi. Dengan ketinggian 1.800 mdpl, Rumah Panda Indonesia selalu diselimuti kabut, hutan hijau lebat dan suhu berkisar 15-24 derajat celcius.
Rumah Panda Indonesia juga telah dilengkapi hutan bambu seluas 10 hektare untuk sumber makanan panda. Di sini terdapat 69 jenis bambu dengan 23 bambu di antaranya merupakan kesukaan Hu Chun dan Cai Tao. Di tempat ini juga terdapat area pendidikan dan perawatan kesehatan.
“Mereka pasti akan betah di sini, kita juga tak perlu pergi jauh kalau mau melihat panda,” kata Direktur Taman Safari Indonesia Jansen.
Taman Safari Indonesia juga telah menyiapkan 2 orang dokter dan 8 orang penjaga. Mereka telah belajar konservasi panda sejak lama langsung dari Tiongkok.
TSI menjadi rumah bagi lebih dari 2.700 hewan dari 270 spesies.
Dengan bertambahnya spesies, TSI menargetkan penambahan pengunjung sebanyak dua juta per tahun, angka ini bertambah 50 persen ketimbang sebelumnya.
Adanya panda di Indonesia, kata Jansen, menjadi kesempatan peneliti Indonesia untuk belajar teknologi konservasi dan pelestarian satwa langka. Ke depan, kedua negara akan lebih sering berbagi pengetahuan soal konservasi.
“Kita punya banyak satwa langka, harus dirawat, ilmu pengetahuan perlu lebih berkembang,” katanya.
Dari Bandara Soekarno Hatta, Hu Chun dan Cai Tao diboyong ke Taman Safari Indonesia.
Setelah dikarantina selama sebulan, barulah masyarakat Indonesia akan bisa bertemu Hu Chun dan Cai Tao.
Rencananya, kehadiran kedua panda akan diresmikan oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping Oktober atau November mendatang.