Hayati Nupus
22 September 2017•Update: 23 September 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Indonesia akan kedatangan sepasang giant panda asal Tiongkok 28 September mendatang.
Kedua panda ini menjadi lambang kerja sama konservasi yang disepakati kedua negara pada 1 Agustus 2016 lalu di Guiyang, Tiongkok.
“Untuk mempererat hubungan diplomatik antar negara, menjadi kebanggaan ketika nanti kita berhasil mengembangkan,” ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Djati Witjaksono, Jumat, di Jakarta.
Direktur Pemolaan & Informasi Konservasi Alam (PIKA) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK mengatakan panda bisa menjadi sarana hiburan bagi masyarakat Indonesia sekaligus mengembangkan kerja sama penelitian mengenai habitat terancam.
“Tidak hanya unsur hiburan tapi pengembangan ilmu pengetahun di Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Wakil Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Sun Weide kedatangan panda ini merupakan kerja sama riset konservasi Tiongkok dengan berbagai negara.
“Panda lambang persahabatan, semoga bisa menyenangkan masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Hingga awal September, Tiongkok telah menjalin kerja sama konservasi panda dengan 20 kebun binatang di 15 negara.
Di Asia Tenggara, Indonesia akan menjadi negara keempat yang kedatangan panda asal Tiongkok setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Berdasarkan riset 2011-2014, terdapat 1864 ekor panda yang hidup liar di 67 kawasan konservasi di Tiongkok. Hingga akhir 2016, Tiongkok berhasil mengembangbiakan lewat metode breeding sebanyak 464 ekor.
Panda betina yang akan tinggal di Indonesia bernama Hu Chun, 7 tahun, dengan bobot 113 kg, sementara panda jantan bernama Cai Tao, 7 tahun berbobot 128 kg.
Keduanya akan terbang dari Bandara Chengdu, Tiongkok, ke Bandara Soekarno Hatta, lantas dikarantina di Taman Safari Indonesia, Bogor, Jawa Barat.
Rencananya, setelah dikarantina selama sebulan, panda bisa disaksikan publik dan akan diresmikan oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping.