Pizaro Gozali İdrus
24 Desember 2018•Update: 25 Desember 2018
Pizaro Gozali
PANDEGLANG
Asep Epin tidak menyangka, Sabtu malam adalah hari terakhirnya berbincang dengan sang ayah Oding Zaenuddin.
Pada malam itu, Asep, 40, menghabiskan waktu bersama Oding, 65, dengan menikmati kopi di Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten.
“Saya tidak ada firasat apa-apa kalau bapak akan pergi,“ kata Asep saat berbincang dengan Anadolu Agency di Carita.
Usai berbincang selama satu jam, ayahnya pamit untuk mendirikan shalat Isya di Villa Paradise tempat bekerja sebagai penjaga.
Sedangkan Asep masih setia menikmati malam di wilayah Pantai Carita yang tengah ramai dengan kehadiran wisatawan.
Namun, segalanya berubah dengan cepat ketika gelombang pasang mulai mencium kakinya.
Awalnya, Asep mengira ini hanya gelombang biasa yang kerap menyapa Carita.
“Gelombang seperti itu umum terjadi di sini,” kata Asep yang asli warga Carita.
Hingga tak lama berselang, gelombang setinggi atap rumah tiba-tiba datang dari arah Selat Sunda.
Ketika itulah, Asep mulai terhenyak. Dia sontak berdiri untuk memastikan sang gelombang.
“Saat itu, saya baru sadar tsunami datang,” terang Asep.
Di tengah gelap malam, Asep langsung bergegas untuk menyelamatkan diri.
Waktu yang dimilikinya tak banyak. Sebab amukan tsunami melaju kencang seolah tengah memburu nyawanya.
Meski begitu, kata Asep, masih banyak wisatawan yang tak menyadari ajal sedang mendekati. Mereka masih larut untuk menikmati suasana ombak di pinggir pantai.
“Saya lihat masih ada turis yang sempat selfie,” tukas Asep.
Beruntung masih banyak pepohonan yang tinggi menjulang di sekeliling Carita. Asep lantas menjamah batang pohon sekuat mungkin untuk menyelamatkan diri.
“Saya berhasil memanjat setelah lari 20 meter,” terang Asep.
Untuk beberapa saat Asep akhirnya dapat bernapas lega. Meski aliran tsunami tepat berada di bawah kakinya yang melaju kencang menerkam.
“Saya baru bisa turun setelah gelombang surut,” terang dia.
Dengan kondisi yang masih terkejut, Asep mencoba mencari keberadaan ayahnya.
Dia ingat sang ayah tengah mendirikan shalat di vila saat berpisah darinya.
Namun upaya itu tak membuahkan hasil. Asep tetap gagal menemukan ayahnya usai tsunami meluluhlantakkan wilayah Kabupaten Pandeglang yang menewaskan ratusan manusia.
Jenazah Oding akhirnya baru dapat ditemukan pada Senin pagi oleh tim penyelamat.
Tubuh penjaga Villa Paradise itu terhempas seratus meter dari lokasi kejadian.
Keluarga hanya dapat bersua dengan jasad yang telah terbungkus kantong mayat berwarna hitam itu di Puskesmas Carita.
Asep mengatakan kondisi ini tak terjadi jika sistem peringatan dini tsunami dapat berjalan dengan baik.
Dia yakin kalau pemerintah menginformasikan adanya tsunami, tak banyak korban berjatuhan.
Saat itu, kata dia, para wisatawan dari luar kota sedang menikmati libur panjang di Carita.
Mereka menginap di sejumlah villa untuk menikmati hiburan dalam acara kantor maupun pertemuan keluarga.
“Jika ada informasi awal, kami pasti sudah menyiapkan diri,” kata dia.
Rahmat Hidayat, 45, menantu Oding, kini hanya bisa pasrah. Dia masih tak mengira getaran kuat erupsi anak Krakatau yang dirasakannya menjadi awal pemicu tsunami.
Dia meminta pemerintah memperbaiki tata kelola peringatan dini tsunami demi keselamatan warga.
“Kadang ada peringatan, tapi sangat mendadak. Istri saya sempat terjatuh karena lari mendengar ada tsunami susulan,” ujar dia.
Namun demikian, Rahmat berterima kasih kepada pemerintah yang berhasil menemukan jasad ayahnya.