Pizaro Gozali İdrus
25 Desember 2018•Update: 25 Desember 2018
Pizaro Gozali
PANDEGLANG
Setidaknya 5.000 warga terdampak tsunami di Kabupaten Pandeglang, Banten yang mengungsi masih kekurangan makanan dan minuman.
Para pengungsi tersebut berasal dari empat desa di Kecamatan Carita yakni Pejamben, Banjarmasin, Sukajadi, dan Sukarame.
Semuanya mengungsi ke Desa Tembong yang bersebelahan dari desa-desa tersebut.
Kepala Desa Tembong Adang Kosasih mengatakan para pengungsi banyak membutuhkan seperti makanan cepat saji, air mineral, obat-obatan, dan peralatan bayi.
“Pengungsi banyak menderita penyakit ISPA dan gangguan pencernaan karena terlambat makan,” kata Adang kepada Anadolu Agency di lokasi pengungsian pada Senin.
Adang mengatakan bantuan dari pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan sektor swasta mulai berdatangan dua hari setelah tsunami.
Namun, bantuan tersebut masih kurang karena banyaknya jumlah pengungsi.
Mereka saat ini masih mengungsi di tenda-tenda darurat, masjid, kantor desa, sekolah dasar, dan rumah-rumah warga.
“Mereka masih takut untuk pulang karena khawatir tsunami susulan,” tutur Adang.
Seorang pengungsi bernama Zakinah, 51, mengaku pasokan menjadi kebutuhan mendesak di lokasi pengungsian.
Dia juga mengatakan mulai terserangan gangguan pencernaan di tengah kondisi pengungsi yang serba kekurangan.
“Dokter memberi saya obat untuk dikonsumsi setelah makan, tapi saya tak tahu bagaimana meminumnya karena belum mendapatkan makanan,” tutur Zakinah.
Ancaman lainnya di lokasi pengungsian adalah hujan deras yang terus mengguyur wilayah Pandeglang.
Kondisi ini membuat pengungsi rentan terkena penyakit karena mereka tidur dengan cuaca dingin.
“Kami hanya tidur di pelataran rumah warga tanpa selimut,” ujar Zakinah.