Jasad 42 teroris ditemukan di Marawi
Pemerintah mulai berfokus memulihkan kota yang hancur karena perang itu
Roy Ramos
ZAMBOANGA CITY, Filipina
Sebanyak 42 jasad teroris, termasuk dua perempuan dan sejumlah warga asing, ditemukan di Marawi pada Senin setelah serangan terakhir di zona perang.
Pada Senin, Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana mengatakan, Marawi yang terletak di selatan Pulau Mindanao bebas dari semua elemen militan. Pengumumannya itu juga menandai akhir dari bentrokan antara militer Filipina dan kelompok-kelompok Daesh di sana, lima bulan setelah perang Marawi meletus.
"Mereka memerangi pasukan kami, jadi mereka teroris," kata Lorenzana seperti dikutip oleh Rappler. "Tidak ada sandera yang tersisa. Semua sandera sudah diselamatkan beberapa hari lalu."
Militer bersikeras mengatakan perempuan-perempuan yang tewas merupakan istri teroris yang memilih ikut berperang.
Walaupun penyelidik belum mengidentifikasi jasad teroris yang paling dicari, Dr. Mahmud Bin Ahmad, komandan militer Jenderal Eduardo Año mengatakan Ahmad tidak mungkin sempat kabur.
Setelah sukses mengakhiri "ancaman ekstremisme dan radikalisme yang dihadapi Filipina dan Asia Tenggara", juru bicara kepresidenan Ernesto Abella mengatakan pemerintah Filipina sekarang bisa fokus memulihkan Marawi dan penduduknya.
Pemerintah menghibahkan dana USD 97 juta untuk pembangunan Marawi hingga akhir tahun ini, kata Kristoffer James Purisima dari Kantor Administrasi Pertahanan Sipil.
Sebagian besar dana itu diarahkan ke operasi bantuan dan dukungan lain bagi lebih dari 72.000 keluarga yang melarikan diri dari konflik, menurut kantor berita Philippine News Agency. Sebanyak 1.100 pemukiman sementara akan dibangun secepatnya.
Lebih dari 300.000 warga Marawi melarikan diri ketika kelompok Abu Sayyaf dan Maute mulai menyerang titik-titik penting kota itu pada 23 Mei. Presiden Rodrigo Duterte merespons dengan menerapkan keadaan darurat militer di seluruh Mindanao hingga akhir tahun.
Konflik lima bulan itu menewaskan 1.100 nyawa, kebanyakan militan.
