Hayati Nupus
24 Juli 2018•Update: 25 Juli 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) mengumpulkan infaq dari anggotanya untuk membiayai operasional organisasi.
Amir JAD Pusat Zainal Anshori alias Qomaruddin mengatakan infaq tersebut diberikan oleh anggota JAD dari berbagai wilayah dan diserahkan kepada pengurus pusat.
“Saya yang langsung menerima infaq dari daerah itu, dana daulah dari ISIS [Daesh] malah belum dapat,” ujar Zainal, dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa.
Zainal mengaku memang pernah menerima Rp27 juta dari Daesh, yang diberikan lewat Rois. Namun uang itu tidak diberikan kepada JAD, melainkan untuk Suryadi Masud di Filipina.
JAD sendiri, ungkap Zainal, tidak memiliki aset. Infaq yang diperoleh seluruhnya dialokasikan untuk mendanai kegiatan JAD, terutama kunjungan ke wilayah.
September 2015, kata Zainal, JAD menggelar pertemuan di Malang, Jawa Timur. Pertemuan untuk menyamakan pemahaman keagamaan itu sekaligus menunjuk pimpinan JAD wilayah, yaitu Yadi Supriyadi sebagai Amir JAD Jabodetabek dan Joko Suyito sebagai Amir JAD Kalimantan.
Pertemuan itu sekaligus menahbiskan Zainal sebagai Amir JAD Pusat, menggantikan Abu Musa, Amir JAD Pusat pertama yang kemudian pergi ke Suriah.
Setelah pertemuan di Malang itu, kata Zainal, dia mengukuhkan JAD di berbagai wilayah yaitu Jawa Barat dan Lampung.
“Sesudah dauroh di Malang itu juga ada baiat untuk setia kepada Abu Bakar al-Baghdadi. Anggota JAD wajib dibaiat, konsekuensinya takwa, sesuai perintah Suriah. Perintah pokoknya berjihad, berdakwah dan berhijrah,” kata Zainal.
Zainal mengiyakan jika 2014 lalu dia bersama Aman Abdurrahman, Abu Musa alias Marwan, Khairil Anwar dan satu orang lainnya, menggagas JAD di Nusakambangan, Jawa Tengah.
Nama JAD, kata Zainal, waktu itu sudah ada. Organisasi ini sebagai wadah orang-orang yang bersetia kepada Daesh.
“Kita malah meminta baiat ke Aman, isinya untuk bersedia mendengar perintah Abu Bakar al-Baghdadi, selama sesuai dengan perintah Allah,” ujar Zainal.