Muhammad Nazarudin Latief
05 Oktober 2018•Update: 05 Oktober 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Peningkatan aktivitas Gunung Soputan, Sulawesi Utara tidak berhubungan dengan gempa bumi di Palu, Sulawesi Tengah, ujar Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rudy Suhendar.
“Aktivitas Gunung Soputan terjadi karena intrusi magmatik di dalam tersebut dan sudah terjadi jauh sebelum gempa bumi di Palu, ujar Rudy,” ujar Rudy di Jakarta, Jumat.
Kegempaan Gunung Soputan mulai meningkat pada Juli 2018. Hal ini mengindikasikan adanya pergerakan ke permukaan sudah terjadi beberapa bulan sebelum terjadinya gempa Palu.
Selain itu, sumber magmatisme Gunung Soputan adalah dari pergerakan subduksi Lempeng Laut Maluku yang mengarah ke Barat. Berbeda dengan sumber gempa Palu yang adalah sesar geser Palu-Koro.
Menurut Rudy di wilayah Sulawesi terdapat sembilan gunung api aktif, yaitu Gunung Colo, Gunung Ambang, Gunung Soputan, Gunung Mahawu, Gunung Lokon, Gunung Tangkoko, Gunung Ruang, Gunung Karangetang dan Gunung Awu.
Dari sembilan gunung tersebut, hanya Gunung Soputan yang mengalami erupsi, hal ini mengindikasikan bahwa gempa tektonik Palu bukanlah sumber dari erupsi Gunung Soputan melainkan magma di dalam tubuh gunung itu sendiri yang memungkinkan gunung api tersebut mengalami erupsi.
Namun, ada kemungkinan magma di dalam tubuh gunung api dapat terganggu oleh gempa tektonik yaitu berupa pertumbuhan gelembung gas, dorongan gas untuk naik ke permukaan maupun guncangan dapur magma.
“Di dunia ini ada sekitar 0,4 persen erupsi yang didahului oleh gempa tektonik. Namun, belum pembuktian secara ilmiah yang mengindikasikan bahwa gempa Palu memicu terjadinya erupsi Gunung Soputan.”
Gunung Soputan menunjukkan gejala peningkatan aktivitas vulkanik mulai Juli 2018 setelah sebelumnya dua tahun beristirahat. Jumlah gempa guguran maksimum sekitar 13 kejadian per hari, pada September sekitar 73 kejadian per hari, serta puncaknya pada 2 Oktober jumlah gempa guguran maksimum sekitar 193 kejadian per hari.
“Aktivitas ini mendasari pemerintah mengirimkan menaikkan status aktivitas dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga) pada 3 Oktober,” ujar Rudy.
Rekomendasi zona bahaya berada di dalam radius 4 kilometer (Km) dengan perluasan secara sektoral ke arah barat- barat daya sejauh 6.5 Km dari puncak.
“Masyarakat dianjurkan menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan dari kemungkinan hujan abu,” ujar Rudy.
Gunung Soputan merupakan gunung api bertipe strato (berlapis) di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara.
Ketinggian Gunung Soputan sekitar 1.784 meter di atas permukaan laut. Aktivitas vulkanik Gunung Soputan di permukaan umumnya dicirikan oleh embusan gas maupun pertumbuhan kubah lava.