Astudestra Ajengrastrı
10 Juni 2018•Update: 11 Juni 2018
Etem Geylan dan Cemal Coskun
ISTANBUL
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Sabtu mengkritik Perdana Menteri Austria Sebastian Kurz atas keputusan pemerintahannya untuk menutup tujuh masjid dan mengusir 40 imam.
"Saya takut langkah yang diambil oleh perdana menteri Austria akan membawa dunia lebih dekat kepada perang salib-bulan sabit," kata Erdogan dalam sebuah acara berbuka puasa bersama di Istanbul.
Erdogan juga berkata Turki akan merespons keputusan untuk mengusir imam-iman.
Dalam konferensi pers dengan Wakil Kanselir Heinz-Christian Strache dan Menteri Urusan Uni Eropa Gernot Blumel, Kurz berkata keputusan ini merupakan bagian dari menjatuhkan "Islam politis".
Kurz berkata investigas atas beberapa masjid yang dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri dan Kantor Urusan Agama telah selesai, dan di tujuh masjid tersebut ditemukan aktivitas terlarang -- salah satu masjid itu dikelola oleh Asosiasi Budaya Turki-Islam (ATIB).
Kanselir Austria menambahkan, sejumlah imam akan dideportasi dengan alasan pendanaan asing.
Pada 2015 ketika Kurz adalah menteri urusan Eropa, dia mendukung disahkannya legislasi Austria mengenai "hukum atas Islam" (Islamgesetz) -- yakni peraturan yang, di antaranya, melarang pendanaan asing untuk masjid dan imam di Austria. Peraturan yang kontroversial ini, yang pada akhirnya disahkan oleh parlemen, bermaksud untuk mengembangkan Islam "dengan karakter Eropa", menurut Kurz.
"Kami berlaku tegas dan aktif menentang perkembangan dan pembentukan #masyarakatparalel -- dan akan terus berlaku demikian bila ada pelanggaran #hukum Islam," tulis Kurz di Twitter.
- Tindakan keras pada terorisme
Dalam kesempatan sama, Erdogan juga berjanji untuk menghapuskan terorisme sepenuhnya.
Presiden berkata, menjadi seorang Kurdi dan seorang teroris "adalah hal yang sangat berbeda".
Erdogan berkata, sementara pemerintah mencoba melibatkan rakyat Kurdi di kehidupan bermasyarakat, teroris terus menduduki wilayah.
"Ketika senjata ditembakkan, kata-kata tak berarti. Itulah mengapa perjuangan kami melawan terorisme akan terus berlanjut sampai teroris terakhir dinetralkan," ujar dia.
Erdogan kemudian mengingat pembunuhan remaja Kurdi, Yasin Boru.
"Bukankah Yasin Boru seorang remaja Kurdi? Umurnya 15-16 tahun. Apa yang dia lakukan? Memberikan bantuan kepada warga Kurdi yang membutuhkan. Mereka membunuhnya dengan kejam. Siapa mereka? Mereka mengatakan mereka orang Kurdi, tapi bukan, mereka adalah teroris," kata dia.
Pada 5 Oktober 2014, Yasin Boru yang berusia 16 tahun beserta teman-temannya, Ahmet Dakak, Riyat Gunes dan Hasan Gokguz, yang sedang membagikan bantuan makanan kepada pengungsi Suriah, dikejar dan dibunuh oleh orang-orang diduga pendukung PKK pada hari kedua Idul Adha.