İqbal Musyaffa
12 Agustus 2019•Update: 13 Agustus 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia mengatakan lambatnya pertumbuhan investasi di Indonesia karena hantaman dari dampak perang dagang berkepanjangan.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan pertumbuhan investasi di Indonesia sempat berjaya dengan pertumbuhan 7 hingga 8 persen namun saat ini pertumbuhannya stabil di kisaran 5 persen.
“Memang pertumbuhan investasi 5,01 persen, tetapi kita juga harus lihat investasi privat non bangunan yang hanya tumbuh 3,07 persen,” jelas Dody, dalam seminar mendorong pertumbuhan sektor manufaktur di Jakarta, Senin.
Dody mengatakan pada dasarnya masih ada ruang bagi pertumbuhan investasi, namun pertumbuhan ini tidak bisa lepas dari permintaan produksi yang tidak terlalu tinggi karena ekspor melambat.
“Jadi masalah di semua negara emerging market yang terkena dampak trade war dan dampak volatilitas di pasar keuangan, yakni melambatnya ekspor dan turunnya proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia,” lanjut dia.
Dody mengatakan kondisi ini dialami oleh banyak negara berkembang termasuk Indonesia. Dengan ekspor yang melambat, maka permintaan produksi berkurang sehingga pertumbuhan investasi juga melambat dan akan menurunkan pendapatan devisa ekspor.
“Kemudian (kondisi ini) menurunkan pendapatan masyarakat yang berakhir kepada konsumsi yang tidak akan setinggi dari yang diperkirakan,” urai Dody.
Dia mengatakan pertumbuhan ekonomi banyak negara tidak akan lebih baik dari tahun sebelumnya sebagaimana tercermin dari prediksi pertumbuhan ekonomi global yang terkoreksi di bawah 3,2 persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II juga hanya 5,05 persen, lebih lambat dari pertumbuhan ekonomi pada triwulan I yang sebesar 5,07 persen dan bahkan jauh lebih rendah dari triwulan II tahun lalu yang tumbuh 5,27 persen.
“Kita akan terus mencoba dorong sisi perekonomian tumbuh, investasi sudah jadi salah satu agenda utama pemerintah selain ekspor,” kata dia.
Dody melanjutkan BI bersama pemerintah melihat sektor-sektor manufaktur unggulan antara lain tekstil, otomotif, dan alas kaki sebagai quick win untuk bisa menembus pasar negara maju.
“Pasar AS dan pasar China mungkin akan menurunkan permintaan, tapi kita masih bisa cari peluang ke negara negara lain, meskipun kita tidak mungkin tumbuh scara optimal sebab secara globalnya (pertumbuhan) melambat,” imbuh Dody.