İqbal Musyaffa
20 November 2019•Update: 21 November 2019
JAKARTA
Kementerian Koordinator Perekonomian menyampaikan bahwa masih sulit bagi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen.
Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Perekonomian Rizal Affandi Lukman mengatakan Indonesia sebenarnya perlu mencapai pertumbuhan rata-rata 7 persen setiap tahunnya untuk bisa mencapai posisi PDB USD7 triliun dari posisi PDB saat ini USD1 triliun.
“Ini target yg berat tentu harus diupayakan lewat berbagai cara. Dengan dukungan politik yang dimiliki Presiden dan Wapres tentu ini jadi modal yang besar untuk lakukan perubahan,” ujar Rizal dalam diskusi Indonesia Economic Forum di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, perubahan-perubahan minor yang sudah dilakukan pemerintah hanya bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 5 persen seperti yang selama ini dicapai sehingga butuh perubahan secara struktural.
“Ini kesempatan yang dimiliki pemerintah saat ini,” lanjut dia
Rizal mengatakan perubahan struktural yang pemerintah akan lakukan adalah melalui upaya meningkatkan ekspor dan investasi karena apabila hanya mengandalkan konsumsi masyarakat, maka pertumbuhan ekonomi tidak akan lebih dari 5 persen.
“Investasi diharapkan dapat membawa teknologi bagi industri kita agar bisa tumbuh lebih tinggi lagi dan bersaing di pasar global,” tambah Rizal.
Selain itu, Rizal mengatakan saat ini pemerintah juga sedang dalam perundingan kerja sama perdagangan dengan beberapa negara dengan 17 perundingan sudah selesai dan 12 perundingan lainnya sedang dalam proses serta 11 perundingan dalam antrian untuk segera dimulai sebagai upaya dalam peningkatan ekspor dan perdagangan.
“Ini merupakan modal yang kalau kita tidak kompetitif industrinya, peluang kerja sama tadi yang telah kita miliki itu hanya kesempatan yang tidak bisa dimanfaatkan,” imbuh dia.
Rizal mengatakan upaya lain yang sedang pemerintah upayakan adalah untuk menekan ongkos logistik selain juga terus mendorong daya saing industri.
Masalah lain yang masih menjadi kendala dunia usaha menurut dia adalah upah buruh yang dianggap pelaku usaha terlalu memberatkan sehingga perlu ada keseimbangan antara kesejahteraan buruh dan daya saing industri.