Lina Altawell
21 April 2026•Update: 21 April 2026
Seorang pendeta Palestina Munther v menyerukan agar kemarahan publik diarahkan pada serangan terhadap warga sipil dan kehancuran luas di Gaza serta Lebanon, alih-alih hanya terfokus pada perusakan patung Yesus oleh seorang tentara Israel.
Isaac, pendeta Gereja Lutheran Injili Christmas di Ramallah, mengatakan dalam unggahan di platform media sosial X bahwa kemarahan seharusnya tidak hanya tertuju pada penghancuran patung Yesus, meski tindakan tersebut dinilainya menjijikkan.
“Yang seharusnya memicu kemarahan adalah penargetan warga sipil, serangan terhadap martabat manusia, serta kehancuran di Gaza dan Lebanon. Perang adalah kejahatan. Kita membutuhkan akuntabilitas,” tulisnya pada Senin.
Rekaman video yang beredar pada Minggu memperlihatkan seorang tentara Israel menggunakan palu untuk menghancurkan patung Yesus di kota Dibel, Lebanon selatan, yang memicu kecaman luas baik di tingkat lokal maupun internasional dari tokoh agama dan politik.
Para pemimpin Gereja Katolik di Yerusalem pada Senin mengecam tindakan tersebut dalam sebuah pernyataan, menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap nilai-nilai keagamaan Kristen dan menuntut adanya pertanggungjawaban.
Penyiar publik Israel melaporkan bahwa tentara tersebut tidak akan menghadapi penyelidikan pidana, melainkan hanya dikenai sanksi disipliner.
Militer Israel dalam pernyataannya menyebut pihaknya memandang insiden tersebut dengan sangat serius dan menilai tindakan prajurit itu bertentangan dengan nilai-nilai yang diharapkan dari tentaranya.
Israel telah melancarkan ofensif militer di Lebanon sejak 2 Maret, tak lama setelah dimulainya perang Iran, yang menewaskan 2.294 orang, melukai 7.544 lainnya, serta menyebabkan lebih dari 1 juta orang mengungsi, menurut data resmi.
Gencatan senjata selama 10 hari diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan mulai berlaku pada Kamis malam, namun pelanggaran masih terus terjadi.