Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengirimkan persembahan ritual ke Kuil Yasukuni saat festival musim semi pada Selasa, memicu kecaman keras dari China dan sorotan baru terhadap ketegangan sejarah di kawasan Asia Timur.
Persembahan berupa tanaman pot yang mencantumkan nama dan jabatan resminya itu dikirim seiring dimulainya festival tahunan selama tiga hari di Tokyo, lapor penyiar publik NHK.
Kuil Yasukuni selama ini menuai kritik dari negara-negara tetangga Jepang karena mengenang korban perang Jepang, termasuk para pemimpin militer yang dihukum atas kejahatan perang setelah Perang Dunia II.
China menyatakan telah melayangkan protes kepada Jepang atas tindakan Takaichi tersebut.
“China dengan tegas menentang dan mengutuk keras langkah negatif terbaru Jepang terkait Kuil Yasukuni,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.
Ia menambahkan bahwa Beijing telah menyampaikan protes serius kepada pihak Jepang, serta menilai kuil kontroversial itu sebagai simbol militerisme Jepang yang bertanggung jawab atas perang agresi.
Menurut Guo, tindakan tersebut merupakan upaya menghindari tanggung jawab sejarah Jepang sekaligus provokasi terhadap negara-negara yang pernah menjadi korban invasi.
Ia juga mengingatkan bahwa tahun ini menandai 80 tahun sejak dimulainya Pengadilan Tokyo yang berlangsung selama 30 bulan, di mana hakim dari 11 negara mengungkap kejahatan yang dilakukan oleh fasis dan militeris Jepang dalam perang agresinya.
Pada masa Perang Dunia II, Jepang menginvasi sebagian wilayah China serta Semenanjung Korea pada periode 1910 hingga 1945.
Sumber pemerintah Jepang menyebut Takaichi mengikuti preseden para pemimpin sebelumnya dengan memilih mengirim persembahan alih-alih mengunjungi langsung.
Namun sebelum menjabat sebagai perdana menteri, ia diketahui rutin mengunjungi kuil tersebut pada tanggal-tanggal penting, termasuk peringatan berakhirnya perang.
China dan Korea Selatan memandang kuil itu sebagai simbol kegagalan Jepang untuk menebus masa lalu imperialismenya.
Korea Selatan juga mendesak Jepang untuk menghadapi sejarah secara jujur dan menunjukkan refleksi melalui tindakan nyata, menurut laporan Yonhap News.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, Park Il, menyatakan penyesalan mendalam dan kekecewaan atas langkah para pemimpin Jepang yang berulang kali mengirim persembahan atau mengunjungi Kuil Yasukuni.
“Kami mendesak kepemimpinan Jepang untuk menunjukkan refleksi yang tulus dan penebusan atas isu sejarah melalui tindakan nyata. Hal ini akan menjadi dasar penting dalam membangun hubungan bilateral yang berorientasi masa depan dan dilandasi kepercayaan,” kata Park.
news_share_descriptionsubscription_contact
