İqbal Musyaffa
30 Januari 2018•Update: 30 Januari 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pertamina menunjuk perusahaan minyak asal Oman, Overseas Oil and Gas (OOG), sebagai mitra kerja untuk membangun kilang minyak baru (Grass Root Refinery/GRR) senilai USD10 miliar atau Rp130 triliun di Bontang, Kalimantan Timur.
Direktur Megaproyek dan Petrokimia Pertamina Ardy Mokobombang mengatakan penunjukkan OOG karena perusahaan tersebut mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah Oman untuk pendanaan proyek dan penyediaan pasokan minyak mentah.
Dalam proses pembangunan kilang, Ardy menjelaskan, OOG juga menggandeng perusahaan trading Cosmo Oil International selaku trading arm Cosmo Energy Group asal Jepang sebagai calon mitra pembangunan kilang tersebut.
“Pembangunan kilang Bontang merupakan salah satu program pemerintah dalam rangka mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi Indonesia,” urai Ardy, Selasa.
Ardy menjelaskan, kilang yang akan beroperasi 2025 mendatang itu diproyeksikan dapat memberi kontribusi penambahan kapasitas pengolahan sebesar 300 ribu barel per hari.
Tahapan pembangunan kilang Bontang selanjutnya, Pertamina dan OOG akan menandatangani Frame Work Agreement dan dilanjutkan Feasibility Study (FS) yang akan diselesaikan pertengahan 2019. Setelah itu, mereka akan menyusun Front End Engineering Package (FEED) hingga akhir 2020.
“Kilang Bontang akan menghasilkan produk utama berupa gasoline dan diesel,” jelas dia.
Ardy mengatakan, konsorsium pembangunan kilang tersebut terpilih setelah melalui proses seleksi calon mitra untuk proyek GRR Bontang. Proses pemilihan ini, ujar Ardy, dilaksanakan berdasarkan skema penugasan pemerintah.
“Proses seleksi dijalankan sejak Januari 2017 yang pada awalnya diikuti oleh sekitar 100 perusahaan pendaftar,” tambah dia.
Setelah tahapan seleksi awal, project expose, hingga tahap Request for Information dan Workshop, Ardy mengatakan, Pertamina menjaring delapan calon mitra potensial.
Pertamina, imbuh Ardy, telah menyampaikan persyaratan terkait perubahan struktur bisnis GRR Bontang kepada mitra potensial tersebut. Dari sisi finansial, Pertamina tidak ikut mendanai proyek.
“Untuk tahap awal Pertamina mendapatkan porsi saham 10 persen dari proyek tanpa mengeluarkan biaya,” ungkap dia.
Konsorsium tersebut, menurut dia, juga akan memberikan deposit dana selama proses studi dan paket engineering serta saat proses konstruksi. Pertamina juga berhak memasok sampai 20 persen minyak mentah GRR Bontang.
- Saham 10 persen hanya sementara
Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Gigih Prakoso mengatakan meskipun Pertamina hanya memiliki saham 10 persen, bukan berarti tidak bisa mengendalikan operasional kilang tersebut.
Secara umum, menurut dia, Pertamina memiliki komitmen untuk mengambil produk dari kilang tersebut untuk ketahan energi nasional.
“Kita juga sudah membuat komitmen dengan mitra untuk memprioritaskan kebutuhan dalam negeri,” tegas dia.
Menurut Gigih, proporsi kepemilikan saham 10 persen oleh Pertamina bisa berubah setelah Final Investment Decision dan apabila dianggap lebih strategis, maka porsi Pertamina bisa bertambah.
“Sebanyak 10 persen saham awal untuk mitigasi risiko. Bukan berarti kita tidak punya pembiayaan,” Gigih menekankan.
Gigih menambahkan, pembangunan kilang Bontang diperkirakan akan memberikan lapangan pekerjaan hingga lebih dari 20.000 orang saat proyek pembangunan, dan sekitar 1.600 orang saat kilang sudah beroperasi.